Loading...

VIBHISANA SANG ARJAWA


Kelahiran Vibhisana


Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai orang dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda dan memang sudah kodrat manusia ada yang mempunyai kecenderungan untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Dalam panca sradha, hal ini dapat dipahami melalui ajaran hukum karma. Kecenderungan untuk berbuat baik merupakan sifat yang diajarkan dalam subha karma, sedangkan kecenderungan untuk berbuat buruk merupakan sifat dari asubha karma.
Vibhisana adalah saudara raja Lańka Ravana.  Ia adalah anak dari Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Pada suatu hari Rsi Wisrawa meletakan jabatan dan hidup sebagai pendeta.  
Rsi Wisrawa bertempat tinggal di pertapaan Girijembat. Silsilahnya diceritakan bahwa Sanghyang Manikmaya berputra Batara Sambo dari Dewi Umayi sebagai putra sulung. Empat keturunan kemudian dari Batara Sambo adalah Prabu Darodana. Dan empat keturunan dari Prabu Darodana ke kiri adalah Rsi Wisrawa putra Rsi Padma, sedangkan empat grad ke kanan adalah Dewi Lokawati, putri Prabu Lokawana raja negara Lokapala. Rsi Wisrawa sangat sakti dan termasyur dalam ilmu kasidan. Ia kemudian di persandingkan dengan Dewi Lokawati. Setelah Prabu Lokawana mangkat, maka atas perkenan Dewi Lokawati, Rsi Wisrawa kemudian dilantik menjadi raja Lokapala. Dari perkawinan tersebut lahir seorang lahir seorang putra bernama Danapati dan setelah dewasa dinobatkan sebagai raja pengganti Prabu Wisrawa (Suwandono, Dhanisworo dan Mujiyono, tt:510).

Pemerintahan negeri diserahkan kepada anak kandungnya yaitu Danapati. Suatu ketika Danapati tergila–gila kepada Dewi Sukesi, putri raja Sumali dari Lańka. Sebagai ayah, Rsi Wisrawa berusaha melamar puteri idaman hati anaknya itu. Maka pergilah ia ke Lańka seorang diri, dan mengutarakan maksud kedatangannya itu kepada raja Sumali (Pratikto, 1983:55). Mendengar hal itu Dewi Sukesi lalu mengajukan sebuah teka–teki tentang Sastra Jendra Hayuningrat. Rsi Wisrawa dengan tersenyum menjawab persoalan itu dengan mudah.
Dewi Sukesi adalah putri Prabu Sumali, setelah dewasa Dewi Sukesi menjadi lamaran para ksatria. Dewi Sukesi tumbuh menjadi perempuan cerdas yang gemar belajar. Banyak para raja dan pangeran berdatangan untuk mempersuntingnya. Seorang perwira Lańka bernama Jambumangli tampil mengumumkan sayembara barangsiapa yang bisa mengalahkan dirinya berhak memperistri Sukesi. Namun Sukesi sendiri juga menggelar sayembara yaitu ia hanya mau menikah apabila ada orang yang bisa mengajarinya ilmu Sastrajendra Hayuningrat. Rsi Wisrawa datang ke Lańka untuk melamar Sukesi menjadi menantunya, yaitu sebagai istri Danapati raja Lokapala. Sumali yang juga sahabat Wisrawa menyatakan bahwa sayembara yang digelar Jambumangli tidak sah. Sayembara yang asli adalah mengajarkan Sastrajendra Hayuningrat. Wisrawa ternyata menguasai ilmu tersebut namun tidak berani sembarangan mengajarkannya kepada orang lain. Barang siapa yang mendengarkan sastra tersebut akan memperoleh pencerahan. Raksasa akan menjadi manusia, sedangkan manusia akan menjadi Dewa. Sukesi pun meminta agar dirinya diajari ilmu Sastrajendra Hayuningrat Wisrawa (Suwandono, Dhanisworo dan Mujiyono, tt:428).

Sementara itu para Dewa menjadi sibuk karena perbuatan Rsi Wisrawa itu. Maka turunlah Dewa Siwa dan Dewa Naradda. Mereka berusaha menggagalkan ajaran suci itu. Oleh sabda kedua Dewa itu, Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi mendadak jatuh cinta. Akhirnya mereka memutuskan untuk hidup bersama sebagai suami istri. Raja Sumali gembira mendengar hal tersebut. Ia telah lama menginginkan menantu berwatak Brahmana sejati. Namun anaknya Raja Danapati sangat kecewa. Maka terjadilah pertempuran antara anak dan ayah. Danapati seorang raja yang sangat sakti. Rsi Wisrawa merasa sangat bersalah dan sebagai penebusan dosa sebenarnya ia rela mati ditangan anaknya sendiri. Tetapi Dewa tidak memperkenankan, bahkan Danapati mendapat marah para Dewa, seperti dikutip dalam buku Herman Pratikto yang berjudul “Hamba sebut Paduka Ramadewa”, seperti yang diuraian dalam teks, dijelaskan bahwa :
“Kata Dewa, Manusia tidak berhak mengadili manusia. Lagi pula engkau lahir ke dunia oleh ayahmu. Seumpama engkau sebatang tanaman, benih–benih ditebarkan oleh ayahmu. Apa alasanmu hendak melawan ? Itulah dosa yang sebesar–besarnya. Engkau akan hancur oleh adikmu sendiri. Itulah anak ayahmu yang akan lahir kemudian hari”. Dewa juga  menghukum pekerti Wisrawa karena telah membuat malu anaknya  yang mencintai dan menghormatinya dengan sepenuh hati. (Pratikto, 1983:57).

Setelah kejadian itu, tidak lama kemudian lahirlah anak Wisrawa yang pertama dari rahim Dewi Sukesi. Anak itu lahir di tengah hutan, berwujud gumpalan darah. Dengan amat sedih Rsi Wisrawa memanjatkan ampun kepada para Dewa. Oleh karena kekuasaan Dewata, segumpalan darah itu menjadi raksasa. Ia memberikan nama Ravana. Anaknya yang kedua juga berwujud raksasa. Telinganya sebesar telinga gajah dan diberi  nama Kumbhakarna. Menyaksikan keadaan kedua anaknya itu, Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi menjadi sangat malu. Seluruh penduduk negeri membicarakan aib tersebut. Rsi Wisrawa seorang Rsi yang berbudhi luhur dan Dewi Sukesi anak seorang raja yang bijaksana. Betapa mungkin kedua anak mereka berwujud raksasa yang menakutkan. Namun dengan  penuh kesungguhan mereka memanjatkan doa siang malam. Berharap dewata menganugerahi seorang anak yang sempurna. Dewata yang maha pemurah mengabulkan permintaan mereka. Kali ini lahir seorang anak yang perempuan. Tubuhnya seperti tubuh manusia, hanya saja berparas raksasa. Kukunya tajam, mengkilat dan mengandung racun. Rsi Wisrawa memberi nama Surpanakha. Sekali lagi orang membicarakannya dan mengejeknya. Dengan rasa sesal dan tobat, keduanya memanjatkan doa bertahun–tahun lamanya. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
Perkawinan Rsi Wisrawa dengan Dewi Sukesi tiga kali berturut-turut melahirkan putra dan putri berwujud raksasa. Hal ini menyedihkan hati. Kemudian ia pun bersamadi dengan tekun memohon kehadirat Dewa agar dianugerahi putra yang berparas mirip dengan putranya yang lain yaitu Danapati. Permohonan itu akhirnya terkabulkan dan Dewi Sukesi kemudian melahirkan seorang putra yang berwajah cakap dan diberi nama Vibhisana” (Suwandono, Dhanisworo dan Mujiyono, tt:481).

Maka lahirlah anak yang keempat, seorang satria rupawan tanpa cacat, keningnya berkilat menyimpan cahaya rahasia. Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi bergembira sekali hatinya. Anak ini diberi nama Vibhisana. Rsi Wisrawa memberi anugerah, semoga anak ini berwatak Brahmana sejati. Berani mempertahankan pendirian, dan bersedia mengorbankan apa saja demi membela kebenaran. Berwatak Brahmana sejati, semoga ini sabda hidup. Setelah dewasa, Vibhisana disuruh pergi bertapa sampai Dewata menurunkan anugerah. Lahirnya tiga anak yang berwujud raksasa itu adalah hukuman para Dewa akibat pernikahan yang terlarang dan membuka ilmu rahasia alam semesta, sehingga membuat mereka lupa diri. Anak-anak mereka lahir dari nafsu, akibat perkawinan yang tidak suci, bibit keturunan pun membawa kutukan dari isi ilmu tersebut.
 Dalam buku Ensiklopedi Wayang Purwa 1 (Compendium) disebutkan bahwa Vibhisana dalam tradisi pewayangan jawa bernama Arya Vibhisana.
“Arya Vibhisana adalah putra bungsu Rsi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri prabu Sumali, raja Alengka. Arya Vibhisana adalah satu–satunya putra yang berwujud manusia diantara ketiga saudara sekandungnya, yaitu Prabu Dasamuka/Ravana, Arya Kumbhakarna dan Dewi Surpanakha yang kesemuanya berwujud raksasa/raksasi. Arya Vibhisana adalah titisan Rsi Wisnu Anjali, oleh karena itu ia sangat bijaksana. Mempunyai tempat bersemayam di kesatriyan Utarapura, yang terletak di sebelah utara keraton Lańka bernama Kuntara. Rsi Wisnu Anjali adalah kerabat Batara Wisnu yang berkewajiban membina kesejahteraan di dalam lingkungan para pendeta. Pada jaman Lokapala menjelma dalam diri Rsi Dasarata, pada jaman Ramayana manuksma dan bersatu dengan Arya Vibhisana, putra Dewi Sukesi dengan Rsi Wisrawa dan saudara muda dari Prabu Ravana raja Lańka dan  jaman Bharata, sejiwa dan manuksma di dalam diri Rsi/Begawan Kesawasidi yang merupakan kerabat Dewa Wisnu (Suwandono, Dhanisworo dan Mujiyono, tt:481).

Keangkaramurkaan kini telah merasuk pada anak yang pertama yaitu Ravana. Sehingga akan menjadi sumber kehancuran wangsanya dan negara. Dalam buku cupu manik astagina disebutkan bahwa, dialog antara Sang Hyang Wenang dan Naradda, saran dari Sang Hyang Wenang untuk menghalagi atau menaklukan sifat keangkaramurkaan yang terkandung pada anak Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi itu. Dikutip dari buku Cupi Manik Astagina, dijelakan bahwa :
“Sang Hyang Wenang menuturkan bahwa untuk menaklukan sifat kotor dari anak pertama Wisrawa dan Sukesi itu, aku diharuskan berputra lagi dari seorang putri makhluk marcapada. Nantinya anakku yang akan dilahirkan itulah yang akan melenyapkan sifat keangkaramurkaan di dunia. Namun anak itu tidak serta merta melakukan tugasnya sendiri, namun harus didampingi oleh Batara Wisnu yang akan menitiskan dirinya kepada manusia. Mereka berdualah yang kelak akan dapat menaklukan sumber kekacauan ini”. (Ardian Kresna, 2012:109).

Dari penjelas tersebut, bahwa nanti yang akan menumpas keangkaramurkaan Ravana adalah adiknya yaitu sekutu dari  Vibhisana yang merupakan anak ilahi dari Dewa Brahma dan Rama yang merupakan reinkarnasi dari Dewa Wisnu. Ketika dharma di injak–injak dan adharma semakin merajalela, maka Tuhan akan turun kedunia menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Dengan wujud tertentu dan kembali menegakan dharma yang sudah menyimpang.

         Anugerah Dewa Brahma
Selama tiga tahun Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi menimang-nimang anaknya. Setelah itu, disuruhlah anak-anaknya pergi bertapa sampai Dewata menurunkan karunia. Akibat tapa hebat yang sedang dilakukan oleh anak–anak Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi tersebut terdengarlah suara yang menggelegar dari Kawah Candradimuka di Gunung Mahameru. Sehingga turunlah para Dewa ke marcapada. Dilihatlah anak–anak dari Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi yaitu Ravana, Kumbhakarna, Surpanakha dan Vibhisana. Dewa Brahma lalu mendatangi mereka satu persatu. Tapa mereka pun dibangunkan oleh Dewa Brahma (Kresna,  2012:110). Dalam buku Cupu Manik Astagina dijelaskan :
“Pertama Dewa Brahma membangunkan Vibhisana, wajah anak ini sangat tampan dan tenang. “Anak muda, apa yang kamu inginkan dari tapamu ini ? Vibhisana menjawab, yang aku inginkan hanyalah kenyamanan dan keamanan dunia sehingga kehidupan manusia dan makhluk–makhluk hidup lain dimuka bumi ini menjadi tenang dan damai dan Dewa Brahma tersenyum mendengar permintaan Vibhisana.” Anak muda yang budiman, keinginan itu sangat luhur. Namun cita–cita itu sangat sulit diwujudkan dikarenakan cara berpikir tiap makhluk berbeda–beda. Sehingga hasrat dan keinginannya pun berbeda–beda. Akibatnya akan sering menimbulkan pertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan itulah yang akan menimbulkan kekacauan. Meskipun begitu, cita–cita luhurmu itu akan aku penuhi meskipun nantinya kau harus berjuang keras untuk menghalangi segala sifat  ketamakan  dan kejahatan yang akan mengelilingi  jalan hidupmu sendiri. Asalkan kau teguh dengan keinginan itu, maka kelak kedamaian dunia akan dapat kau wujudkan meskipun pengorbanannya begitu besar dan berat.  Apa kau sanggup menjalaninya ? Vibhisana menjawab, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran demi kenyamanan dan keamanan kehidupan di dunia ini. Dewa  Brahma sungguh sangat senang mendengar hal tersebut. Sehingga Vibhisana diberi anugerah sikap kelembutan dari tutur kata yang dapat mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan yang akan dilakukan” (Kresna, 2012:113-114).

Karakter Vibhisana mirip dengan Prahlada yang dilahirkan sebagai keturunan asura, namun menjadi pemuja Dewa Wisnu yang setia. Vibhisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa dan memuja Dewa Wisnu. Ketika Ravana dan Kumbhakarna bertapa memuja Brahma, Vibhisana juga berbuat demikian. Saat Dewa Brahma memberi kesempatan kepada Vibhisana untuk memohon anugerah, Vibhisana meminta agar ia selalu berada di jalan kebenaran atau dharma. Sikapnya tidak seperti kakaknya yang meminta kekuatan untuk menaklukkan para Dewa. Selanjutnya Dewa Brahma membangunkan tapa dari Surpanakha. Dewa Brahma bertanya, apa yang kau inginkan dari tapamu itu ? Surpanakha menjawab, aku ingin selalu mendapatkan kesenangan dengan daya kekuatanku. Apapun yang aku inginkan dapat terkabulkan agar aku senang. Dewa Brahma mengabulkan permintaan Surpanakha untuk mendapatkan kesenangan dunia, seperti yang dia inginkan. Namun sifat wanita raksasa ini akan senantiasa bergelimang dengan hasrat dan nafsu keinginan duniawi (Kresna, 2012:117).  
Setelah Vibhisana dan Surpanakha mendapatkan anugerah, Dewa Brahma lalu menemui Kumbhakarna. Badannya yang besar menjadikan Kumbhakarna sosok yang menakutkan. Dewa Brahma muncul karena berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan. Saat tiba giliran Kumbahkarna untuk mengajukan permohonan, Dewi Saraswati masuk ke dalam mulutnya untuk membengkokkan lidahnya, maka saat ia memohon "Indraasan" yang berarti tahta Dewa Indra, namun yang ia ucapkan adalah "Neendrasan" yang berari tidur abadi. Brahma mengabulkan permohonannya. Karena merasa sayang terhadap adiknya, Ravana meminta Dewa Brahma agar membatalkan anugerah tersebut. Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugrahnya, namun ia meringankan anugrah tersebut agar Kumbhakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama satu hari. Pada saat ia menjalani masa tidur, ia tidak akan mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.
Brahma mengutuk Kumbhakarna bahwa dia akan tidur seakan-akan dia mati. Namun Ravana memohon agar jangan mengutuk Kumbhakarna dengan kutukan seperti itu. Hingga akhirnya Dewa Brahma meringankan kutukan, bahwa Kumbhakarna akan tidur selama enam bulan dan akan bangun selama satu hari. Satu hari bangun itu, dia akan makan binatang sebanyak mungkin dan dia akan seperti hutan api jika dia lapar.
Dewa Brahma lalu menemui putra sulung Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi yaitu Ravana. Dewa Brahma bertanya, apa yang kau inginkan dari tapamu ini ? Ravana menjawab, aku ingin menjadi orang paling sakti di dunia dan memiliki umur panjang. Kalau tidak dikabulkan oleh para Dewa, maka aku akan terus bertapa di sini sampai permohonanku benar–benar dikabulkan. Setelah cukup lama merenung, akhirnya Dewa Brahma pun menyutujui keinginan raksasa muda itu. Saran dari Dewa Brahma, ilmu sakti yang diberikan itu bukanlah digunakan sebagai alat kejahatan (Kresna, 2012:122). Setelah mendapatkan anugerah, Dewa Brahma berpesan bahwa gunakanlah kesaktian sebagai penjaga diri dari ancaman yang akan mencelakakanmu. Ravana pun melonjak–lonjak kegirangan setelah cita–cita dikabulkan oleh Dewa. Dikutip dalam buku Hamba Sebut Paduka Ramadewa, dijelaskan bahwa :
“Tiga tahun lamanya Ravana bertapa, tetapi Dewa yang diharapkan akan memberikan karunia tidak kunjung datang. Maka diadakanlah suatu persembahan yang istimewa. Setiap tahun ia memenggal kepalanya sendiri dan diletakan di atas batu, kemudian memekikan doa himbauan senyaring–nyaringnya. Ia rela mati oleh tangannya sendiri dari pada hidup berkepanjangan tiada arti. Pada tahun kedua belas ketika ia hendak memotong kepalanya yang terakhir, di saat itu Dewa Kalaludra turun ke bumi karena kagumnya menyaksikan tekad yang penuh pengorbanan itu. “katakan padaku, apa kehendakmu !” tegur Hyang Kalaludra. Dengan sujud sembah, Ravana mengatakan keinginannya. Pertama, ia ingin menjadi raja besar tiada bandingannya. Menguasai darat, laut dan udara. Kedua, ia ingin sakti tiada lawan. Kuasa mengalahkan para Aditya dan Dewa. Karena bersungguh–sungguh, permohonannya dikabulkan. Watak yang keras membaja itu akan membuat setiap keinginannya akan terkabulkan. Ravana girang bukan kepalang. Tiba–tiba kepalanya berjumlah sepuluh dan utuh kembali seperti semula. Kejadian itu membuat ia menepuk dada seperti sikap menantang semua yang ada di sekelilingnya” (Pratikto, 1983:59–60).

Setelah masing–masing dari anak Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi mendapat anugerah lalu mereka datang ke Lańka. Sungguh perjuangan yang luar biasa karena mereka semua mendapatkan anugerah yang mereka inginkan. Setiap anugerah yang diberikan memiliki kelebihan dan kekurangan masing–masing, tergantung bagaimana mereka nantinya menggunakan anugerah tersebut. 

Karma memengaruhi Karakter Vibhisana
      Kata karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “kr” artinya melakukan yang menyatakan sebuah tindakan yang membawa hasil dalam kehidupan sekarang atau dikehidupan yang akan datang (Pandit, 2006:71). Dalam slokantara dijelaskan bahwa :
Karmaphala ngaran ika
Phalaning gawe hala hayu
Terjemahan :
Karmaphala artinya akibat (pahala) dari buruk (suatu) perbuatan (karma). Subhaasubha karma (subhasubha prawrtti)
(Rai Putra, Jelantik dan Argawa, 2013:116)

      Baik buruknya perbuatan akan membawa akibatnya, baik saat ini atau akhirat nanti. Karmaphala mengajarkan untuk percaya bahwa perbuatan baik akan berphala baik dan perbuatan buruk, buruk pula pahalanya. Karakter tidak saja dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi karakter juga dipengaruhi oleh karma. Karma ini adalah sifat masa lalu yang berpengaruh terhadap kehidupan sekarang. Jika dahulu karmanya baik dan suka menolong, tetapi mengalami punarbhawa maka pada kehidupan yang sekarang akan menjadi orang baik, suka menolong dan dharma selalu menjadi tuntunan dalam hidup.
      Vibhisana adalah reinkarnasi dari seorang Rsi agung dan mulia, sehingga Vibhisana bagaikan permata dalam lingkungan negeri Lańka. Dalam buku Ensiklopedi Wayang Purwa 1 (Compendium), seperti uraian teks, dijelaskan bahwa :
Arya Vibhisana adalah titisan Rsi Wisnu Anjali, oleh karena itu ia sangat bijaksana. Rsi Wisnu Anjali adalah kerabat Batara Wisnu yang berkewajiban membina kesejahteraan di dalam lingkungan para pendeta. Pada jaman Lokapala menjelma dalam diri Rsi Dasarata, pada jaman Ramayana manuksma dan bersatu dengan Arya Vibhisana, putra Dewi Sukesi dengan Rsi Wisrawa dan saudara muda dari Prabu Ravana raja Lańka dan Jaman Bharata, sejiwa dan manuksma di dalam diri Rsi/Begawan Kesawasidi yang merupakan kerabat Dewa Wisnu (Suwandono, Dhanisworo dan Mujiyono, tt:481).

Dari uraian teks tersebut, dapat mempertegas bahwa karakter Vibhisana itu dipengaruhi oleh karma kehidupan terdahulu. Pada kehidupan terdahulu, Vibhisana adalah seorang pendeta agung yang bertugas membina kesejahteraan di lingkungan para pendeta. Ketika Vibhisana lahir pada jaman Treta Yuga, Vibhisana berusaha untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang ksatria yang berkarakter pendeta. Vibhisana memang sudah berbeda dari sejak lahir hingga dia tumbuh dewasa. Walau tempat Vibhisana tinggal adalah lingkungan para raksasa, namun karena keteguhan dan sifat-sifat khasnya yang sudah dibawa sejak lahir, menyebabkan Vibhisana tidak terpengaruh oleh lingkungannya. Karma seseorang terdahulu akan dapat mempengaruhi karakternya pada kehidupan sekarang atau pada masa yang akan datang. Sehingga akan selalu terikat oleh karma-karma terdahulu, sekarang dan akan datang. Adapun jenis-jenis karmaphala yaitu :
1.      Sancita Karmaphala adalah pahala perbuatan pada kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang bisa menentukan perjalanan hidup sekarang.
2.      Prarabda Karmaphala adalah perbuatan pada kehidupan sekarang dan pahala akan diterima pada kehidupan sekarang pula.
3.      Kriyamana Karmaphala adalah perbuatan yang tidak langsung dinikmati pada masa sekarang, tetapi pahalanya dari perbuatan tersebut akan diterima pada masa yang akan datang.
Dari karma-karma terdahulu menyebabkan seseorang lahir dengan karakter-karakter yang berbeda-beda. Ada yang lahir dengan sifat Daiva dan ada yang lahir dengan sifat Asura. Karakter Ravana dan Kumbhakarna juga dipengaruhi oleh karma terdahulu. Dalam Srimad Bhagavatam diceritakan, ketika Catursana yaitu Sanaka, Sananda, Sanatana dan Sanatkumara pergi ke Waikunta yang dipercaya sebagai tempat Narayana dengan keinginan untuk memuja beliau. Mereka melalui enam gerbang dalam keadaan tergesa-gesa, namun para Rsi dicegah oleh Jaya dan Wijaya yang merupakan penjaga pintu Waikunta. Akibatnya para Rsi menjadi marah dan mereka mengutuk Jaya dan Wijaya. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
Kami dapat melihat bahwa posisimu di sisi Tuhan telah menjadikan kalian berdua sombong. Kami mengutuk kalian untuk meninggalkan Narayana. Kalian akan lahir sebagai manusia yang dikuasai oleh kama, kroda, mada dan semua kejahatan lain (Subramaniam, 2006:65).

Kesombongan akan membawa kehancuran dan kutukan, kutukan tersebut harus dijalani sebagai sebuah hukuman akibat perbuatan yang melanggar aturan. Mereka berdua diberi dua pilihan oleh  Dewa Wisnu jika hidup di dunia, yaitu sebagai pemuja Wisnu selama tujuh kehidupan atau sebagai musuh Dewa Wisnu selama tiga kehidupan. Karena Jaya dan Wijaya ingin singkat menjalani hidup di dunia, maka mereka lebih memilih untuk menjalani hidup sebagai musuh Dewa Wisnu. Selama Jaya dan Wijaya bereinkarnasi ke dunia dan menjalani karmanya, mereka selalu dibunuh oleh awatara Dewa Wisnu. Pada masa Satya Yuga, Jaya dan Wijaya lahir sebagai Hiranyaksa dan Hiranyakasipu, putra Diti dan Kasyapa. Hiranyaksa dibunuh oleh Waraha awatara, sedangkan Hiranyakasipu dibunuh oleh Narasinga awatara. Pada masa Treta Yuga, Jaya dan Wijaya lahir kembali sebagai Ravana dan Kumbhakarna, putera Wisrawa dan mereka dibunuh oleh Rama awatara. Pada masa Dwapara Yuga, mereka lahir sebagai Sisupala dan Kamsa dan keduanya dibunuh oleh Kresna. Setelah mereka menjalani hukuman karma, Jaya dan Wijaya kembali ke Waikunta.
Dari kisah Jaya dan Wijaya tersebut, maka dapat mempertegas bahwa karma terdahulu sangat berpengaruh terhadap karakter kehidupan kini dan  kehidupan masa yang akan datang. Kelahiran dari  yang berwujud raksasa Hiranyakasipu menjadi Ravana lalu menjadi Sisupala, ini adalah sebuah proses, Hiranyakasipu adalah raksasa, Ravana juga berwujud raksasa, tetapi sudah lebih baik karena mempelajari Veda sedangkan Sisupa adalah manusia sempurna hanya saja mereka semua harus mati  ditangan Dewa Wisnu. Tidak ada yang terbebas dari ikatan karma, sehingga berbuatlah yang baik, jalani kehidupan dengan penuh rasa kasih dan mengamalkan ajaran agama yang merupakan sumber dari segala kebenaran. Sehingga nantinya terhindar dari karmaphala buruk dan menyiksa. Dari karma yang mempengaruhi karakter Vibhisana ini, dapat diambil hikmahnya, bahwa ketika istri hamil, suami harus berdoa untuk keselamatan istri dan jabang bayi agar anaknya benar-benar merupakan anugerah dari Sang Hyang Widhi bukan anak yang lahir dari sekedar nafsu. Jangan sampai yang lahir adalah keturunan yang bermasalah yang mengakibatkan penderitaan bagi keluarga.

Vibhisana Lahir dari Yadnya
Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Secara etimologi pengertian yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Pada masa penciptaan alam Sang Hyang Widhi dalam kondisi Nirguna Brahman (Tuhan dalam wujud tanpa sifat) melakukan tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma (Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana). Dari proses ini, bahwa penciptaan awal dilakukan dengan yadnya yaitu pengorbanan diri Sang Hyang Widhi dari Nirguna Brahman menjadi Saguna Brahman. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Dalam Bhagawadgita Bab III, sloka 10 disebutkan :
saha-yajnāh prajāh srstvā
purovāca prajāpatih
anena prasavisyadhvam
esa vo ‘stv ista-kāma-dhuk
Terjemahan :
Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan, Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yadnya, berkata dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri) Pudja, 2004:84.

Dari satu sloka tersebut, jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya, maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Yadnya memiliki tiga manfaat, yaitu :
1.         Menjamin ketenteraman bagi manusia melalui anugerah Dewa selama hidup di dunia;
2.         Untuk hidup bahagia setelah kematian di alam para Dewa;
3.         Yadnya sebagai kewajiban bagi ketenteraman dunia dan tanpa memikirkan keuntungan diri sendiri.
(Saraswati, 2009:40)
Setiap pasangan suami istri pasti menginginkan untuk mempunyai keturunan yang sempurna. Oleh karena itu, seyogyanya melaksanakan yadnya sebagai bentuk sujud dan bakti kehadapan Sang Hyang Widhi. Karena seorang anak adalah hadiah terbesar yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi, sehingga pelaksanaan yadnya sebagai bentuk rasa terimakasih kepada-Nya. Kelahiran Vibhisana karena yadnya dari Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Untuk mendapatkan keturunan yang berwujud manusia sejati, diperlukan sebuah korban suci secara tulus ikhlas. Karena Kesempurnaan dan kebahagiaan tidak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Diibaratkan bahwa diri manusia itu tidak ubahnya seperti lembu perah yang akan diperah terus menerus untuk memenuhi keinginan yang timbul pada diri manusia itu sendiri.
Sebagaimana Tuhan menciptakan manusia melalui yadnya, demikian pula manusia harus beryadnya untuk memperoleh segala keinginan, termasuk untuk memperoleh keturunan. Contoh sederhana bila memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju, maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Jika bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian, maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju.
Dari gambaran sederhana tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka harus rela berkorban. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta, tulus dan ikhlas. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. 



Vibhisana Sebagai Simbol Sattwam
Dalam membaca mahakarya Ramayana, bukan saja tokoh Sri Rama saja yang menarik, tetapi juga tokoh-tokoh Ravana, Kumbhakarna, Surpanakha dan Vibhisana. Mereka adalah tokoh bersaudara tetapi yang sangat menarik dan menjadi perhatian, karena mereka memiliki dasar-dasar pemikiran yang berbeda dan karakter yang berbeda. Menurut pemikiran timur, sifat manusia dapat dibagi ke dalam tiga kualitas. Setiap orang memiliki ketiganya dalam derajat yang berbeda. Namun setiap individu didominasi oleh satu dari ketiganya yang mempengaruhi dan mengarahkan tingkah lakunya (Madrasuta, 2013:25).
Sifat sattwam yakni sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas, terang, tenteram, waspada, disiplin, ringan dan sifat-sifat baik lainnya. Orang yang dikuasai oleh sifat sattwam biasanya berwatak tenang, waspada, dan berhati yang damai serta welas asih. Kalau mengambil keputusan akan ditimbang terlebih dahulu secara matang, kemudian barulah dilaksanakannya.Segala pikiran, perkataan, dan perilakunya mencerminkan kebijaksanaan dan kebajikan, seperti tindakan sang Yudistira dan sang Krishna dalam cerita Mahabharata, dan tindakan sang Rama dan Vibhisana dalam cerita Ramayana. Keadaan sattwam adalah kesenangan diperintah oleh tindakan yang dituntut oleh pengetahuan dan kebijaksanaan. Seseorang bertindak dengan tujuan pasti adalah dia mengerti bahwa hadiah terdalam dari tindakan adalah kebahagiaan karena tindakan itu sendiri (Madrasuta,  2013:257).
a.      Sattwam dalam filsafat Samkhya
Pokok ajaran filsafat Samkhya ialah ajaran tentang Purusa dan Prakerti  yaitu asas rohani dan bendani. Dari keduanya ini terciptalah alam semesta dengan isinya (Sumawa dan Krisnu, 1995:139). Di dalam filsafat Samkhya, dalam Prakerti ada tiga guna. Prakerti dibangun oleh tri guna yaitu sattwam, rajas dan tamas. Purusa adalah tidak terikat, ia merupakan kesadaran, meresapi segalanya dan abadi. Karakter suatu mahluk ditentukan oleh tri guna. Sattwam adalah keseimbangan, bila sattwam yang berkuasa maka akan terjadi kedamaian dan ketenangan.  Rajas adalah aktivitas yang menyebabkan suka da tidak suka, menarik dan benci. Tamas adalah yang membelenggung hingga muncul kelesuan dan kemalasan. Salah satu guna ini biasanya lebih berpengaruh pada orang yang berbeda-beda, sehingga muncul karakter yang berbeda-beda pula.
Seseorang yang dikuasai sifat sattwam akan berkarakter bijaksana, cenderung menjalani kehidupan yang murni, suci, mulia dan memiliki sifat kedewataan. Sifat sattwam ini banyak dimiliki oleh orang-orang yang bijak atau orang suci. Dalam filsafat samkhya ada dua perubahan bentuk tri guna yaitu wirupa parinama dan swarupa parinama.
1.       Wirupa Parinama  
Wirupa parinama adalah disaat guna yang satu menguasai guna yang lain dan bekerja sama, maka terjadilah penciptaan (Sumawa dan Krisnu, 1995:141). Ketika wirupa parinama yang mempengaruhi dan Ravana, Kumbhakarna, Surpanakha dan Vibhisana, mereka masih bertukar pikiran, maka Lańka menjadi sangat kuat, tidak bisa dikalahkan. Ketiganya saling memengaruhi dan mereka bersinergi,  maka mereka akan menjadi sakti. Jika Ravana mau mendengarkan Vibhisana maka mereka tidak akan pernah terkalahkan dan  apapun yang diinginkan pasti akan tercapai. Andai saja Vibhisana tidak usir oleh Ravana, Rama dan pasukan wanara akan kesulitan mengalahkan pasukan Ravana.
Ketika sattwan memihak kepada sattwam dan tidak lagi bergabung dengan rajas, maka pihak kebenaran ada di sattwam. Karena yang menjadi pengendali dari rajas adalah sattwam. Ibarat mobil dengan perangkatnya yaitu setir, gas dan rem. Setir melambangkan sattwam, gas melambangkan rajas dan rem melambangkan tamas. Tanpa adanya setir sebagai pengendali pengemudi, gas akan kehilangan arah dan tidak terkontrol. Demikian pula dengan Vibhisana yang bertugas sebagai penasehat raja, namun diusir dan dipermalukan oleh raja Ravana. Akibat diusirnya Vibhisana, dia memihak kepada Rama dan menjadi penasehat. Vibhisana memberi nasehat ketika Rama dililit oleh nagapasa milik indrajit.
Dengan bergabungnya Vibhisana, menyebabkan Rama mengetahui kelemahan para raksasa. Ketika indrajit melepaskan nagapasa, tidak akan yang bisa menolong kecuali Vibhisana yang memberi tahu obat lataosadi. Andai kata Vibhisana tidak bisa diusir, maka indrajit tidak bisa dikalahkan. Vibhisana memberi informasi Hanoman untuk melihat dan mengganggu ritual indrajit ketika memohon kesaktian kepada Dewi Kali. Ini bukti yang mempertegas bahwa, ketika sattwan, rajas dan tamas tidak bersatu pasti kehancuran yang akan terjadi. Membenarkan perbuatan yang dilakukan oleh Vibhisana dan ini semua adalah rekayasa Sang  Hyang Widhi. Hanoman melihat yaga nikumbhila Indrajit, menyebabkan ritual  kepada Dewi Kali tidak berhasil. Hal ini sama dengan teori pengleakan di Bali. Ketika ada orang yang mau ngeleak tetapi dilihat oleh manusia menyebabkan kekacauan dan proses pengleakannya tidak sempurna. Dengan demikian, sattwam, rajas dan tamas harus bersinergi, jika tidak bersatu maka akan menyebabkan kehancuran, seperti yang dialami oleh Ravana dan para raksasa.
2.      Swarupa Parinama      
Swarupa parinama adalah pada waktu pralaya, masing-masing guna berdiri sendiri (Sumawa dan Krisnu, 1995:141). Ketika sattwam, rajas dan tamas, masing-masing berdiri sendiri maka akan terjadi kehancuran dan disebut dengan swarupa parimana. Seperti halnya, Ravana yang melambangkan rajas, Kumbhakarna melambangkan tamas dan Vibhisana yang melambangkan sattwam, karena terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan menyebabkan kehancuran. Vibhisana diusir dari negerinya sendiri. Vibhisana berbeda karakter dengan saudara-saudaranya, karena memang proses lahir Vibhisana berbeda dengan saudara-saudaranya. Ravana lahir dari nafsu, Vibhisana lahir dari tapa dan permohonan. Memohon agar mempunyai anak yang daivi sampat, artinya anak yang bersifat dewata dan mulia. Dari nafsu lahirlah Ravana, kemudian berkurang nafsunya, lahirlah Kumbhakarna, kemudian memohon lagi dan meningkat kualitasnya. Ibarat menyaring air, dari keruh makin jernih dan jernih. Baru yang terjernih adalah Vibhisana. Dengan tapa dan permohonan dari Wisrawa, Dewa Brahma mendengarkan dan akhirnya diberikan anak yang benar-benar berparas tampan dan berkarakter sattwam.
        Ketika svarupa parinama, kecenderungan masing-masing guna berputar dan bergerak pada diri sendiri. Di mana Ravana pada egonya, Kumbhakarna tidur dan bermalas-malasan, nasehat Vibhisana tidak didengar oleh Ravana dan mereka semua berdiri sendiri, menyebabkan semuanya hancur. Demikian juga tri guna dalam diri manusia. jika sattwam, rajas dan tamas berdiri sendiri  atau tidak saling mempengaruhi maka akan terjadi kiamat atau kematian. Rajas tidak ada, maka angin tidak akan bergerak menyebabkan manusia akan mati. Tamas tidak ada maka tidak akan ada yang tidur dan dunia selalu sibuk dan sattwam tidak ada, maka tidak akan  ada kebaikan di dunia ini. Ravana tidak mendengarkan nasehat Vibhisana dan Kumbakharna tidur maka terjadi kehancuran. Sattwan sudah tidak ada, andai saja Vibhisana masih ada di Lańka, maka akan sangat sulit untuk mengalahkan para raksasa. Vibhisana adalah simbol sattwam, sattwan sudah berusaha masuk ke rajas, supaya sattwam dan rajas ini bisa bersatu. Tetapi rajas tidak menerima dan akhirnya terjadi svarupa parinama.
b.      Sattwam dalam Wrhaspati-Tattwa
Wrhaspati-Tattwa adalah salah satu lontar yang bercorak siwaistik yang ajarannya bersumber dari Veda. Dalam Wrhaspati-Tattwa dijelaskan, kekuatan Tuhanlah yang menggerakan mayatattva dan timbulah pradhanatattva, yang merupakan perwujudan maya yang hampa yaitu alam tidak sadar. Tuhan menggabungkan atmatattva dan pradhanatattva. Atman lenyap dan menjadi tidak sadar. Ia menjadi acetana karena ia tidak merasa dimasuki oleh pradhanatattva. Itulah yang menyebabkan ketidaksadaran atman, sedangkan pradhanatattva digerakan oleh kekuatan Tuhan (kriyasakti) dan melahirkan tri guna, yaitu sattwam, rajas dan tamas (Putra dan Sadia, 1998:16).
Tri guna mewarnai pikiran manusia, sehingga akan berpengaruh terhadap perkataan dan perbuatan. Dalam Wrhaspati-Tattwa sloka 15 dan 16 dijelaskan :
Ikang citta mahangan māwa, yeka sattwa ngaranya, ikang madêrês molah, yeka rajah ngaranya, ikang abwat pêtêng, yeka tamah ngaranya
Terjemahan :
Sattwam bersifat terang dan bersinar, rajas berubah-ubah, tamas berat dan kabur. Ketiga sifat itulah yang mempengaruhi pikiran. Pikiran yang terang dan jernih disebut sattwam. Pikiran yang selalu berubah-ubah disebut rajas dan pikiran  yang berat dan keruh disebut tamas  (Putra dan Sadia, 1998:15).

Ikang ambêk duga-duga drêdha, maso ta ya wruh ta ya ri palenan ing wastu lawan maryada, wruh ta yeng Iswaratattwa, widagdha ya, mamanis ta ya denyan pamêtwakên wuwusnya, mahalêp pindakarāny awaknya, yeka laksana ning citta sattwika
Terjemahan :
Kejujuran, kebebasan, kelembutan, kekuatan, keagungan, ketangkasan, kehalusan dan keindahan adalah sifat-sifat pikiran sattvika. Pikiran jujur dan teguh dapat membedakan antara benda dan batas-batasnya, memiliki pengetahuan tentang Iswara-tattwa, pandai menunjukan kelembutan dalam berbicara, memiliki bentuk badan yang indah, merupakan sifat pikiran sattwika. (Putra dan Sadia, 1998:16).
                                   
Vibhisana mewakili diri yang sudah sadar, bahwa kakak-kakaknya Ravana, Kumbhakarna dan Surpanakha adalah saudara dalam kehidupan kini. Vibhisana mengasihi kakak-kakaknya, akan tetapi dia lebih memilih dharma, kebenaran yang nyata dan abadi. Wujud kakak-kakaknya hanya sementara di dunia, yang belum tentu dikenalnya dikehidupan sebelumnya maupun yang kehidupan yang akan datang.
Dalam ajaran tri guna, Vibhisana melambangkan Sattwam, berbeda dengan kakak-kakaknya yang mewakili rajas, tamas dan kama. Ravana mewakili ego yang hanya memikirkan diri pribadi, termasuk menculik Sita dengan menggunakan segala cara dan mempertahankannya dengan kekuasaan. Bahkan mengorbankan rakyat dan negara demi kesenangan pribadi, dalam ajaran tri guna, Ravana melambangkan Rajas. Ketika Ravana dipengaruhi oleh kama dan mada, itu adalah awal dari kehancurannya dan itulah sebab kebinasaannya. Surpanakha adalah lambang dari kama (nafsu). Surpanakha adalah penyebab diculiknya Sita, karena informasi keberadaan Sita berasal dari Surpanakha, seperti dalam uraian teks dijelaskan :
“Rama memiliki istri bernama Sita, “ia amat cantik” ucap Surpanakha. Aku pikir kesempurnaan wanita ini akan menjadi ideal jika menjadi milikmu. Dadamu yang perkasa adalah tempat bersandar untuk tangannya yang lembut. Ketika aku berusaha menangkapnya  untuk membawanya padamu sebagai hadiah, pada saat itulah Laksmana melakukan penghinaan dengan melukai dan membuatku cacat seumur hidup” (Subramaniam, 2003:59).

Jika berpikir lebih dalam, siapa sebenarnya musuh-musuh yang paling kuat dalam hidup ini ? ternyata musuh itu adalah pikiran yang tercemar. Ketika nafsu berjalan bersama dengan rajas menyebabkan sifat-sifat yang penuh semangat membara ini tidak terkontrol, karena nafsu yang berlebihan menjadi pemimpin semua sifat buruk manusia. Dalam buku “Hidup itu seperti petir” Suyadnya (2007:9-10) Krsna bersabda bahwa betapapun tingginya pendidikanmu, apapun pangkatmu, apapun jabatanmu, kalau engkau tidak bisa mengendalikan nafsu, engkau tidak akan memperoleh ketenangan batin. Ketenangan batin hanya dapat diperoleh dengan mengendalikan nafsu.
Kumbhakarna mewakili ego yang sudah meluas memikirkan negara yang menghidupinya, sehingga walaupun tahu kepala negara sekaligus kakak kandungnya bersalah, dia berperang membela negaranya yang sedang diserang. Terlepas dari anugerah yang diperoleh oleh Kumbakarna, dalam kesehariannya Kumbakarna selalu tidur, bermalas–malasan dan tidak memikirkan apapun yang ada disekitarnya. Sehingga dalan ajaran tri guna, Kumbhakarna melambangkan tamas.
c.       Sattwam dalam Dwaita Wedanta 
Dalam Dwaita Wedanta dijelaskan bahwa jiwa dapat dipengaruhi oleh tri guna yaitu :
1.      Jiwa sattwika yaitu yang dikuasai oleh sifat sattwam dan jiwa semacam ini akan dapat menuju ke alam sorga.
2.      Jiwa rajasa ialah jiwa yang dikuasai oleh sifat rajas dan jiwa yang semacam ini akan tetap dalam keadaan samsara.
3.      Jiwa tamasa ialah jiwa yang dikuasai oleh sifat tamas dan jiwa ini akan jatuh ke alam neraka.
      Pengaruh tiga guna inilah yang menentukan jiwa-jiwa itu untuk mencapai sorga, kelahiran kembali ke dunia dan masuk neraka yang menyebabkan seseorang mengalami kebahagiaan dan penderitaan. Menurut Dwaita, tiga guna itu merupakan produk pertama dari prakerti yang menjadi asas kebendaan, maka dari  itu pengaruhnya sangat kuat terhadap jiwa. Dalam modul 1-12, Sumawa dan Krisnu (1995:264) dijelaskan bahwa :
1.      Sattwam adalah unsur dari prakerti yang alamnya bersifat tenang, riang, terang dan bercahaya. Wujudnya berupa kesadaran, sifatnya ringan yang menimbulkan gerak keatas, seperti adanya angin dan air di udara dan semua bentuk kesenangang, kepuasan dan kebahagiaan.
2.      Rajas adalah unsur gerak pada benda-benda ini, ia selalu bergerak, yang menyebabkan benda dan makhluk bergerak. Rajas menyebabkan api berkobar, angin berhembus dan pikiran berkeliaran kesana-kemari.
3.      Tamas menyebabkan sesuatu menjadi pasif dan bersifat negatif. Ia bersifat keras, menentang aktivitas, menahan gerak pikiran sehingga menimbulkan kegelapan, kebodohan dan mengantarkan manusia pada kebingungan.
Pengalaman di dunia, setiap objek tampaknya memiliki tiga karakter. Masing–masing dari karakter ini mewakili satu aspek berbeda dari realitas fisik. Sattwam menandakan segala sesuatu yang murni halus dan berguna untuk menghasilkan kebahagiaan. Rajas selalu aktif, ia juga bertanggung jawab untuk keinginan dan ambisi. Tamas yang berarti pendiam dan memberikan perlawanan. Ia cenderung untuk tidur dan tidak aktif (Madrasuta, 2014:73). Ketiga guna ini selalu hadir bersama dan tidak pernah dapat dipisahkan. Ketiga ini ada didalam satu keadaan seimbang secara sempurna dan sangat mempengaruhi karakter hidup manusia.
Adanya tri guna pada manusia menyebabkan adanya orang–orang yang sabar dan tenang serta tabah menghadapi sesuatu  yang menimpa dirinya. Adanya orang–orang yang resah, gelisah, bingung dan selalu penuh dengan kesibukan dalam hidup ini. Selain itu ada lagi orang–orang yang malas, manja, tidak mau bekerja, apatis dan masa bodoh serta acuh tak acuh yang tidak menghiraukan apa yang terjadi disekelilingnya.
Karakter Ravana, Kumbhakarna, Surpanakha dan Vibhisana selalu ada dalam diri manusia. Ketika Ravana yang bersifat rajas menguasai diri ini maka akan mengakibatkan kehancuran dan penderitaan yang mendalam. Apapun yang sifatnya berlebihan itu tidaklah baik. Hindari memuaskan diri sendiri tanpa berlandaskan ajaran dharma. Sradha kepada Tuhan dan sifat tidak mengejar keduniawian merupakan kunci untuk mencapai kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Bhagawan Sri Satya Sai Baba bersabda bahwa ketidakterikatan terhadap keduniawian memberi kebahagiaan dan keterikatan membawa sengsara. Dalam kutipan dijelaskan :
“Beradalah di dunia namun tidak terikat. Saudara, rekan, teman, dan mitra Rama, semuanya adalah teladan pribadi yang dijiwai oleh dharma. Tiga pemimpin raksasa melambangkan pribadi yang bersifat rajas (Ravana), sifat tamas (Kumbhakarna), dan sifat sattva (Vibhisana). Sita merupakan Brahmajnana atau kesadaran Tuhan yang universal dan mutlak yang harus dicapai setiap individu melalui pahit getirnya kehidupan dunia. Sucikan dan kuatkan hatimu dengan merenungkan kemuliaan Ramayana dan yakinilah Rama adalah jati dirimu” (Bhagawan Sri Satya Sai Baba, terj.,N Kasturi, 2011:xi-xii).

Ibarat makan, jika makan itu berlebihan makan perut akan menjadi sakit. Karena perut sakit menyebabkan diri ini menderita.  Akan tetapi ketika manusia sudah bisa mengendalikan diri, apapun yang dimakan pasti dengan porsi yang cukup, seperti ada pepatah yang mengatakan “berhentilah makan sebelum anda kenyangan”. Kalimat ini menyarankan untuk hidup secara seimbang dan tidak berpoya–poya. Semua sifat itu ada pada karakter Vibhisana yang selalu menjalankan kaidah kehidupan dengan seimbang. Itu semua dia buktikan dengan selalu mengatur pola makannya, menghormati para leluhurnya, dan rajin berdoa untuk keselamatan dunia.
Di dalam Vayu Purana disebutkan bahwa Brahma membagi ke dalam 3 fungsi utama, yaitu sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, yang disebut dengan Tri Murti. Tri Murti jika dikaitkan dengan Tri Guna maka akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya. Dewa Wisnu dengan sifatnya sattwam yang bertugas untuk memelihara dan menjaga dunia dari sifat-sifat adharma, Dewa Brahma adalah Dewata dengan sifatnya rajas yang bertugas sebagai pencipta dan Dewa Siva adalah Dewata dengan sifatnya tamas yang bertugas sebagai pralina atau pelebur. Jika dikaitkan dengan karakter Vibhisana yang berpegang teguh pada dharma, maka Vibhisana karakternya dipengaruhi oleh sifat-sifat sattwam. 

Vibhisana Berpegang Teguh pada Prinsip Kebenaran
Vibhisana adalah simbol dharma yang merupakan kebenaran tertinggi dan universal. Dimanapun kebenaran itu akan tetap benar. Walau ditaruh ditempat yang kotor, tetap saja akan berpegang teguh pada kebenaran. Dalam kehidupan Vibhisana, dia selalu berpegang teguh pada prinsip hidupnya. Prinsip tersebut tidak lepas dari karakter Vibhisana yang baik, sopan, tenang karena sifat Vibhisana dipengaruhi oleh sattwam dan menyebabkan perilaku Vibhisana yang sesuai dengan ajaran moral dan sesuai dengan aturan. Vibhisana yang sejak lahir memang berwujud manusia dan tidak terpengaruh oleh lingkungan tempat dia tinggal. Ketika Vibhisana lahir, Rsi Wisrawa bersabda bahwa Vibhisana akan menjadi anak berwatak Brahmana sejati. Berani mempertahankan pendirian dan bersedia mengorbankan apa saja demi membela kebenaran (Pratikto, 1983:58). Saat dewasa Vibhisana bertapa memohon anugerah, permohonan Vibhisana sungguh mulia. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
“Anak muda, apa yang kamu inginkan dari tapamu ini ? Vibhisana menjawab, yang aku inginkan hanyalah kenyamanan dan keamanan dunia sehingga kehidupan manusia dan makhluk–makhluk hidup lain dimuka bumi ini menjadi tenang dan damai. Apa kau sanggup menjalaninya ? Vibhisana menjawab, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran demi kenyamanan dan keamanan kehidupan di dunia ini. Dewa Brahma sungguh sangat senang mendengar hal tersebut. Sehingga Vibhisana diberi anugerah sikap kelembutan dari tutur kata yang dapat mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan yang akan dilakukan” (Kresna, 2012:113-114).

Keinginan Vibhisana sungguh mulia dan anugerah itu menjadi prinsip hidupnya. Dengan  karakter dan anugerah tersebut, Vibhisana bagaikan permata yang bersinar di antara para raksasa. Karakter yang berpegang teguh pada kebenaran dan berani menentang tindakan-tindakan adharma menyebabkan Vibhisana sering berselisih dengan Raja Ravana. Kebenaran adalah dharma dan dharma adalah nafas kehidupan. Sri Swami Sivananda (2003:72) menyatakan bahwa dalam filsafat Waisesika, yang meningkatkan dan membawa lebih dekat kepada Tuhan adalah benar, yang membawamu turun dan jauh dari Tuhan adalah salah, yang dilakukan dengan tepat sesuai dengan kitab suci adalah benar dan yang dilakukan dengan melanggar kitab suci adalah salah. Agama adalah ajaran tentang kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu-gugat karena berasal dari Tuhan. Kebenaran adalah sesuatu yang tidak berubah dan selalu benar. Jika kebenaran itu adalah sesuatu yang benar hari ini, maka kebenaran itu juga akan menjadi benar besok dan selamanya. Karakter Vibhisana berpegang teguh pada kebenaran adalah kebenaran yang berdasarkan ajaran kitab suci yang merupakan petunjuk dari Tuhan dan tindakan Vibhisana dibenarkan dalam kitab suci. Adapun ajaran-ajaran kebenaran dalam kitab suci dipertegas dalam berbagai sloka-sloka, antara laian :
a.      Ajaran Kebenaran dalam Slokantara
Secara harafiah, Slokantara berarti untain sloka mahawakya yang diyakini mengandung kebenaran hakiki. Kitab ini sejajar kedudukannya dengan kitab Sarasamuccaya yang bersama-sama merupakan Kitab Smrti (Sudharta, 2012:vii). Teks Slokantara dapat menjadi fundamen yang kokoh bagi umat Hindu dalam menghadapi kehidupan yang penuh godaan duniawi yang menyesatkan. Ketika Vibhisana telah lelah memberi nasehat kepada Ravana, hingga pada akhirnya demi kebenaran, Vibhisana meninggalkan itu semua, karena tidak ada yang melebihi dari ajaran kebenaran dan itu dibenarkan dalam kitab Slokantara.  Dalam kitab Slokantara Sloka 3 (7) dan  4 (9) di jelaskan :
Nāsti satyāt paro dharmo nānrtāt pātakam param,
triloke ca hi dharma syāt tasmāt satyam na ’lopayet.
Terjemahan :
Tidak ada dharma (kewajiban suci ) yang lebih tinggi dari kebenaran (satya), tidak ada dosa lebih rendah dari dusta. Dharma harus dilaksanakan di ketiga dunia ini dan kebenaran harus tidak dilanggar  (Sudharta,  2012:15).

Anityam yauwanam rupamanityo drawyasamcayah,
anityah priyasamyogastasmād dharmam samācaret.
Terjemahan :
Keremajaan dan kecantikan rupa tidak langgeng. Timbunan kekayaan tidak langgeng. Hubungan dengan yang dicinta pun tidak langgeng. Oleh karena itu harus selalu mengejar dharma (kebenaran) karena itulah yang langgeng  (Sudharta, 2012:17).

 Vibhisana mempunyai harta berlimpah, mempunyai wewenang sangat besar sebagai adik seorang raja yang sangat berkuasa. Vibhisana mempunyai keluarga yang hidup sejahtera di negeri Lańka. Akan tetapi demi kebenaran dia rela menukar itu semua dengan menyeberang ke pihak Rama yang kekuatannya belum diketahui apakah bisa mengalahkan pasukan Lańka. Sebuah pilihan yang penuh resiko terhadap diri dan keluarganya, terutama apabila pasukan Rama kalah perang melawan pasukan Ravana. Sesungguhnya manusia semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Slokantara sloka 43(40), bahwa seorang pelayan boleh meninggalkan rajanya dengan alasan yang dijelaskan sloka ini yang berbunyi :
Tyajet swāminamatyugrāt krpanam tyajet,
Knpanadawisesajnamawisesat krtaghnakan.
Terjemahan :
Seorang pelayan boleh meninggalkan tuannya, jika tuannya itu sangat kejam atau kikir, sangat kikir, apabila jika ia tidak mempunyai rasa perikemanusiaan, atau jika ia tidak bisa membalas budhi  (Sudharta,  2012:133).
Jika keluarga bertindak yang bertentangan dengan ajaran dharma dan menginjang-injak dharma maka tindakan yang harus di perbuat adalah menasehati dengan perkataan dan menasehati dengan tindakan. Dia adalah musuh bagi kebenaran. Membela kebenaran jangan pernah mengkaitkannya dengan hubungan kekerabatan dan bertindaklah adil. Hal ini dipertegas dalam kitab Slokantara  sloka 25 (51) yang berbunyi:
Paro’pi hitāwām bandhurbandurapyahitah parah,
ahito dehajo wyādhir hitamāranyamausadham
Terjemahan :
Walau orang lain tetapi bermaksud baik adalah keluarga. Walau keluarga tetapi kalau bermaksud jahat adalah orang lain. Sebagai halnya penyakit, walaupun timbul dari diri sendiri tidaklah menyenangkan, sedangkan daun obat-obatan walaupun dari hutan asalnya, sangatlah dihargai (Sudharta,  2012:85).

Dari Sloka tersebut dapat dijelaskan kondisi–kondisi kapan waktunya seorang raja patut ditinggalkan. Ketika raja mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan nasib rakyatnya atas perbuatan menculik Sita, ketika itu juga penasehat raja harus berani membuka pintu hati sang raja agar mengubah sikapnya. Sudah sepatutnya seorang penasehat memberikan arahan dan jalan kebenaran. Namun apa jadinya jika seorang penasehat yang jujur dan bijaksana, tetapi raja tidak memperdulikannya bahkan mengusirnya. Jika seorang raja sudah bertindak sedemikian jahatnya dan tidak menghiraukan cahaya kebenaran, tinggalkanlah raja yang bersifat demikian. Seketika penasehat raja yang bijaksana meninggalkannya, seketika itu pula cahaya akan padam. Akibatnya kegelapan dan nafsu yang menyelimutinya yang menyebabkan raja menjadi tersesat dan terjerumus ke dalam lubang kehancuran.
Vibhisana adalah ornamen yang paling indah seperti permata. Dia telah memahami bahwa negara hanya merupakan maya yang tidak abadi yang berguna bagi peningkatan kesadaran, sedangkan dharma adalah kebenaran yang benar-benar nyata. Vibhisana secara tidak langsung telah memuliakan dan mensucikan kaum Raksasa.


Nasehat  Kebenaran Vibhisana kepada Ravana
Ada pepatah yang mengatakan bahwa keberhasilan tergantung pada nasehat orang bijak. Vibhisana merupakan penasehat raja dan selalu menjalankan tugasnya dengan baik. Ketika Vibhisana bertemu dengan Hanoman, Vibhisana berdialog dengan Hanoman, seperti yang diuraikan dalam teks :
“Wahai Hanuman, engkau sungguh beruntung telah dipilih sebagai Duta Sri Rama. Tahukah wahai Hanuman, mengapa saya yang berdoa setiap hari terhadap Sri Rama belum dapat bertemu Sri Rama?” Hanuman menjawab: “Pangeran Vibhisana, karena senantiasa doa  maka Pangeran akan memperoleh kesempatan dharsan, bertemu muka dengan Sri Rama. Akan tetapi sekedar berdoa kurang bermakna, doa harus diikuti perbuatan nyata. Paling tidak Pangeran harus menyuarakan Kebenaran. Karena yang paham diam,  maka negeri Lańka mengalami carut-marut dalam penegakan dharma.” (Anandas Ra, 2004:122).

Dari dialog tersebut, keberanian Vibhisana muncul untuk menasehati Ravana, karena tindakannya telah menyimpang dari ajaran dharma. Ia mengetahui betul kaidah dharma yang harus di jalani sebagai seorang penasehat raja. Vibhisana adalah orang yang mahir dalam seni berbicara. Dari tutur bicara, Vibhisana tahu apa yang harus diucapkan, kapan dan dimana ia harus berbicara. Sesuai dengan karakter Vibhisana yang tenang dan sopan mencoba untuk menasehat Ravana.
Ternyata umur tidak bisa menjadi jaminan seseorang untuk bisa berpikir lebih dewasa dan bijak. Ibarat pepatah mengatakan, “lebih duluan yang tua merasakan garam kehidupan tetapi belum tentu bisa berpikir bijak”, Vibhisana yang lebih muda tetapi berpikir dewasa dan tidak ada salahnya Vibhisana menasehati Ravana. Karena yang menunjukan kedewasaan seseorang dalam kehidupan bukan dari usianya, namun dari karakter yang baik, ucapan dan tindakan yang bijaksana. Di dunia ini akan mudah untuk mencari orang yang akan menyenangkan hati dengan kata-kata yang manis, akan tetapi akan sangat sulit mencari orang yang menyuarakan kebenaran dengan tegas. Dunia ini bagaikan dijatuhi racun oleh perbuatan Ravana. Oleh karena itu, harus ada penawar racun agar dunia terselamatkan. Nasehat yang jujur ibarat pil pahit namun pada akhirnya akan menyembuhkan. Kritik yang jujur sulit diterima, terutama dari seseorang anggota keluarga, seorang teman, seorang kenalan atau orang asing (Foster, 2008:78). Nasehat Vibhisana adalah amerta yang akan menyelamatkan Ravana dan dunia ini. Adapun nasehat-nasehat dari Vibhisana untuk raja Ravana, yaitu Vibhisana ingin agar Ravana  mempertimbangkan kekuatan musuh, mengembalian Sita dan menyembah Rama.
a.      Mempertimbangkan kekuatan musuh
Tugas menjadi seorang penasehat adalah menasehati tentang kebenaran, walau terkadang kebenaran itu menyakitkan. Namun, jika nasehat itu diperuntukan untuk kepentingan bersama, seharusnya nasehat tersebut dipertimbangkan. Pasukan Lańka terlalu menganggap remeh pasukan Wanara, sehingga mereka semua menjadi sombong. Tetapi, mempertimbangkan kekuatan musuh adalah suatu kebijakan yang sangat tepat. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
“Aku telah mendengar tentang Rama. Dia adalah orang yang selalu berhati-hati dan penuh pertimbangan akan selalu didukung oleh para Dewa. Rama adalah seorang yang selalu jaya  dan yang terpenting adalah Dewa ada dibelakangnya. Pertimbangkanlah kekuatan Hanoman, tidak boleh merendahkan kekuatan musuh” (Subramaniam, 2003:13).

Dari kutipan di atas, dapat dilihat sosok Vibhisana yang bisa menilai dan menimbang kekuatan musuh. Sudah sangat jelas, kesalahan ada dipihak Ravana, karena menculik istri Rama. Seharusnya tidak ada peperangan, namun yang harus dilakukan adalah mengembalikan Sita dan memohon maaf kepada Rama. Tidak boleh meremehkan musuh, walau seorang raja memiliki kekuatan yang luar biasa dan tidak terkalahkan. Karena dengan demikian hanya akan menimbulkan sifat keakuan yang sebenarnya akan membawa diri pada kehancuran. Jangan pernah mengukur kekuatan musuh dari segi fisik dan jumlah. Semua menteri dan pasukan raksasa Ravana memberikan nasehat penuh dengan kesombongan yang merupakan ciri khas sifat dari para raksasa. Ravana adalah orang yang bingung dan bodoh, kejam tak punya belas kasihan. Ravana ibarat racun, supaya menjadi sehat, hendaknya menasehatinya.
b.      Menasehati untuk mengembalikan Sita
Ketika mengambil istri orang, itu adalah dosa yang paling besar, membunuh Brahmana  adalah dosa terberat dan terjahat. Kalau selingkuh, menyebabkan dosa pada istri dan dosa pada suaminya dia. Ravana seharunya berani mengakui kesalahan, karena Sita bukan istri yang diperebutkan dalam sayembara, melainkan dengan menculik dan itu adalah tindakan yang sangat memalukan. Kejatuhan seseorang ada tiga yaitu  tahta, harta dan wanita. Awal dari segala bencana yang terjadi di negeri Lańka adalah akibat ulah memalukan rajanya sendiri. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
Kalian harus menasehati agar dia mengembalikan Sita pada suaminya dan ini adalah jalan yang terbaik. Vibhisana menoleh kearah Ravana dan berkata, kembalikan Sita pada Rama. Maka selanjutnya kau akan terbebas dari segala kekhawatiran dan kamipun bisa bernafas lega serta hidup bahagia. Vibhisana memohon agar nasehatnya didengar” (Subramaniam, 2003:21-23)

Memang dalam hidup ini akan sangat mudah menemukan seseorang dengan kebohongan dan menyenangkan hati  dengan kata-kata yang manis. Tetapi sulit mencari seseorang yang jujur dan tulus dari hati, seperti tindakan lantang dan berani Vibhisana yang menyuruh Ravana untuk mengembalikan Dewi Sita.  Karena dengan mengembalikan Sita, berarti Ravana menjunjung tinggi nilai keagungan martabat leluhurnya, Ravana akan tercatat sebagai seorang raja yang cinta damai, Ravana akan menjadi raja yang pandai menghargai hak dan nilai budhi seorang raja yang luhur, dengan keputusan itu Ravana akan dihormati sejarah sebagai seorang raja yang mengutamakan cinta kasih dan Ravana akan dihormati para Dewa dan umat manusia diseluruh dunia  (Pratikto, 1983: 348-349).
Jika Ravana dikaitkan dengan jaman sekarang ini, Ravana akan dicap sebagai pemimpin yang tidak bermoral oleh rakyatnya sendiri. Bukannya mempertahankan daerah kekuasaan tetapi mempertahankan istri orang lain. Seharusnya tidak ada rakyat yang patut untuk membelanya. Tetapi sangat disayangkan, karena pengaruh sifat keraksasaan mereka ikut terjerumus oleh nafsu rajanya Ravana. Namun Vibhisana memang sungguh berbeda, Vibhisana ibarat permata didalam lumpur. Walau dikotori oleh lumpur tetap saja akan menjadi permata yang indah. Vibhisana yang berada di lingkungan para raksasa tetapi tetap bisa memancarkan cahaya kebenaran, bahkan tidak terpengaruh oleh lingkungan tempat dia berada. Seperti pernyataan Vibhisana kepada Ravana “sekarang apa tujuan berperang? hanya bersitegang mempertahankan istri orang lain? Bukakankah nama paduka yang agung dan berwibawa akan runtuh karenanya?”(Pratikto, 1983:349).
 Dengan demikian nasehat–nasehat yang disampaikan oleh Vibhisana sungguh agung dan mengarahkan kejalan kebenaran. Apa yang dipertahankan oleh Ravana itu adalah sesuatu yang tidak sepatutnya dipertahankan. Karena Sita adalah racun yang telah membutakan mata Ravana. Racun yang akan membunuh kejahatan para raksasa. Sita ibarata kekuasaan yang dipertahankan untuk kepentingan Ravana sendiri tetapi mengorbankan rakyat Lańka untuk mempertahankannya. Ravana telah dipengaruhi oleh Sad Ripu karena tidak bisa mengendalikan keinginannya. Andai saja Ravana mempertahankan wilayah kekuasaan, peneliti mempunyai keyakin bahwa Vibhisana tidak akan membelot dan membantu raja untuk berperang. Namun pada kenyataannya apa yang telah dipertahankan Ravana telah berseberangan dengan sendi–sendi ajaran  kebenaran.
c.       Menasehati agar Ravana menyembah dan bersahabatan
Vibhisana menasehati Ravana agar menyembah dan bersahabat dengan Rama. Seperti yang diuraikan dalam teks dijelaskan bahwa “tuanku, mohon dengarkan nasehatku, ambil permata-permata berhargamu dan bawalah Sita kepada Rama” (Subramaniam, 2003:23). Nasehat untuk menyembah dan bersahabat dengan Rama adalah nasehat yang sungguh mulia. Peneliti mempunyai keyakinan jika Ravana mau mendengarkan nasehat Vibhisana maka kerajaan Lańka akan semakin jaya. Menyembah dan mengakui kesalahan adalah tindakan kesatria. Dengan menyembah Rama, sebenarnya Ravana akan berumur panjang karena terbebas dari kematian.
Namun karakter Ravana yang angkuh dan merasa hebat menyebabkan dia menjadi sombong dan tidak mau bersahabat. Menyembah dan bersahabat dengan musuh, bukanlah tindakan pengecut. Karena persahabatan akan melahirkan rasa saling mengasihi dan saling menyayangi. Bahkan yang termulia akan semakin terhormat dan disegani oleh masyarakat. Apabila Ravana mau mendengar nasehat Vibhisana, maka selamanya tidak akan terjadi perang, tidak ada kerugian, tidak ada kematian, tidak ada kesedihan yang diterima oleh Ravana dan pengikutnya. Nasehat Vibhisana adalah siasat yang tetap, karena peperangan tidak akan menghasilkan apa-apa, yang ada hanya kehancuran dan penderitaan. Apalagi Ravana berada dipihak yang salah dengan menculik Sita, maka  Ravana akan hancur.

Nilai-nilai yang perlu diteladani dari Karakter Vibhisana
a.      Ketekunan
Ketekunan adalah perilaku atau tindakan yang bersungguh-sungguh, rajin dan penuh semangat. Vibhisana bersama saudara–saudaranya bertapa selama bertahun–tahun untuk mendapatkan ilmu yang diharapkan. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa:
Tiga tahun lamanya Vibhisana dan saudara-saudaranya bertapa, hingga pada akhirnya Vibhisana memperoleh anugerah dari dari Dewa Brahma. Vibhisana datang ke negeri Lańka dan memiliki anugerah dari Dewata sebagai mahluk sakti yang tidak terkalahkan (Pratikto, 1983:60).

Pada jaman sekarang ini, bertapa selama sepuluh tahun untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diidentikan dengan orang yang belajar pada pendidikan formal untuk mendapatkan bekal hidupnya. Hal ini bukan perjuangan yang mudah. Tentunya Vibhisana dan saudara–saudaranya mengalami banyak tantangan, kesulitan serta godaan. Namun demikian pada akhirnya Vibhisana berhasil menyelesaikannya dengan baik.
 Sejak mulai bertapa, Vibhisana sudah didasari oleh maksud–maksud dan cita–cita yang baik. Dia tidak mengharapkan dapat menguasai dunia atau mendapat kekuasaan, tetapi lebih kepada cita–cita kedamaian dan kelestarian hidup umat manusia. Hal tersebut dipegang teguh serta dilaksanakan setelah tuntas perjuangan memperoleh ilmu. Ilmu itu diamalkan dalam kehidupan sebenarnya, yaitu menentang kebatilan untuk menegakan kebenaran.
b.      Keteguhan hati
Keteguhan hati adalah kekuatan hati, di mana hal yang mutlak diperlukan oleh manusia dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia. Keteguhan hati dapat berarti dalam keyakinan sradha kepada Sang Hyang Widhi, komitmen terhadap ajaran-ajaran-Nya, teguh dalam memegang prinsip–prinsip kebenaran dan kuat dalam memperjuangkan keyakinan yang bersumber dari hati nurani. Dalam teks dijelaskan, ketika Vibhisana menjawab pertanyaan Ravana, “hamba tetap pada pendirian semula, bila paduka ingin tetap menjadi raja agung di negeri Lańka, kembalikan Sita” (Pratikto, 1983:348).
Keteguhan hati mengantarkan seseorang meraih kebijaksanaan dan kemuliaan dalam hidupnya. Keteguhan hati menjadi cermin kepribadian seseorang, karena menunjukan keyakinan kebenaran yang ditempuh. Dalam teks dijelaskan :
Seorang kakak harus diperlakukan sebagai seorang ayah. Akan tetapi, tuan kau telah menolak untuk berjalan di atas rel dharma. Aku berrmaksud menyelamatkanmu. Aku punya satu keinginan dalam hatiku dan itu adalah kebaikan dan keselamatanmu (Subramaniam, 2003:25).

Ketika seseorang mampu mendengarkan bisikan hati, dalam kebenaran dan kebaikan, tidak mudah tergoda dengan tawaran dan jebakan hawa  nafsu dan ego pribadi, tidak mudah dibelokan dengan tujuan yang tidak sesuai dengan keyakinan hati. Keteguhan hati merupakan nilai yang dapat temukan pada karakter Vibhisana. Vibhisana yang memiliki pola pikir dan pola tindakan berbeda dengan saudara–saudaranya sangat teguh memegang prinsipnya. Sebagai orang yang luas pengetahun lahir maupun batin, Vibhisana tahu persis apa yang akan dihadapi dengan tindakan dan perilakunya. Vibhisana tidak pernah mau bergeming dari prinsip–prinsip yang diyakini kebenarannya. Semua itu didasari oleh keyakinan bahwa itulah laku seorang yang luhur budhinya, itulah laku seorang pendeta yang arif dan bijaksana, dan dengan cara itu dia dapat mengamalkan ilmunya demi kebenaran dan keadilan. Dia adalah gambaran orang yang sangat teguh hatinya. Dia adalah orang yang betul–betul membela kebenaran yang diyakini. Dia berani berkorban atas segala yang dimilikinya demi kebenaran.
c.       Bijaksana
Bijaksana adalah tindakan dengan menggunakan akan budhinya dalam menghadapi suatu masalah kehidupan dan kecakapan dalam bertindak apabila dalam menghadapi suatu kesulitan. Dimana terdapat nafsu, kebencian, kemabukan, amarah disitu tidak terdapat kebijaksanaan. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
Vibhisana berdiri dan berbicara dengan penuh kebijaksanaan, pertimbangkanlah kehebatan Hanuman. Dia telah menyeberangi lautan samudera luas yang tak akan pernah bisa diseberangi oleh mahluk duniawi. Karena tidak boleh merendahkan kekuatan musuh dan jangan tergesa-gesa menafsirkan kekuatan mereka (Subramaniam, 2003:13).

Kebijaksanaan menjadi permata bernilai bagi seseorang. Tanpa adanya kebijaksanaan maka kesalahan dan keserakahan akan semakin sering dilakukan. Vibhisana adalah orang yang terkenal sangat luas pengetahuannya, baik lahir maupun batin. Dalam kisah kehidupannya, Vibhisana adalah orang yang menghargai pendapat orang lain, baik para orang tua, penguasa, ataupun rakyat jelata. Dengan sifat yang demikian, Vibhisana selalu bisa menimbang apa yang seharusnya dilakukan atau diputuskan terhadap suatu masalah yang dihadapi.
d.      Satria
Satria adalah suatu sifat yang selalu membela kebenaran, tidak takut menghadapai kesulitan atau tantangan yang bagaimanapun beratnya, serta mau mengakui kesalahan. Dalam hal pertentangan antara kakaknya Ravana, dengan Rama, Vibhisana digambarkan tahu persis mana yang benar dan mana yang salah. Atas dasar tersebut, Vibhisana berani mengesampingkan nilai “berbakti” kepada raja Ravana, karena tujuan Vibhisana adalah untuk membela kebenaran dan keadilan. Dia berani menasehati, meminta dan menganjurkan kakaknya untuk mengembalikan Sita kepada Rama, serta meminta maaf kepada Rama atas kesalahan yang telah menculik Dewi Sita. Vibhisana berani menasehati Ravana dengan pandangan yang berbeda. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
Mohon kembalikan Sita pada Rama, aku tidak pernah takut mengorbankan nyawa, namun aku mengkhawatirkanmu. Akan sangat mudah untuk mencari semilyar orang yang akan menyenangkanmu dengan kata-kata manis. Akan tetapi akan sangat sulit mencari orang yang mau menyuarakan kebenaran dengan tegas. Mohon selamatkan kota ini dan dirimu sendiri (Subramaniam, 2003:25).

Vibhisana sadar betul bahwa tindakannya itu akan membuat Rahvana murka. Walaupun demikian, Vibhisana tidak takut dimarahi, disakiti dan bahkan diusir dari negara yang dicintainya demi membela kebenaran. Dia rela meninggalkan kemewahan dan berbagai fasilitas yang dimilikinya. Dia cenderung memilih kebenaran dan berbagai kesulitan dari pada kesenangan tetapi menginjak–injak sendi kebenaran dan keadilan.
e.       Berbakti
Berbakti adalah perbuatan yang menyatakan setia, tunduk dan hormat kepada orang tua dan Tuhan Yang Maha Esa. Berbakti berarti sikap dan perilaku terhadap sesama dengan mengadakan sikap khusus, karena adanya perbedaan dalam usia dan kedudukan. Berbakti juga berarti menjunjung tinggi pesan dan amanat yang diterima, khususnya dari ayah dan ibu. Karena nasehat ayah dan ibu adalah doa dan anugerah yang suci. Sehingga pengertian berbakti ini dapat pula terwujud dalam sikap tidak menolak terhadap pesan orang, misalnya kakak, paman, bibi, bahkan kakek dan nenek. Betapa baktinya Vibhisana kepada Ravana, supaya Ravana tidak hancur, Vibhisana menasehati dan memperingati adalah pengabdian yang sungguh luar biasa. Simbol bakti adalah selalu mengingatkan dan menghormati kakaknya Ravana, namun Ravana tidak paham, hingga tega mengusir Vibhisana. Seperti yang diuraikan dalam teks, dijelaskan bahwa :
Ia memasuki  ruangan istana, kemudian Vibhisana mendekat dan bersujud dihadapan Ravana. Vibhisana adalah orang yang mahir dalam seni berbicara. Ia tahu apa yang harus diucapkan, kapan dan dimana saja (Subramaniam, 2003:15).

Vibhisana adalah orang yang berbakti yang selalu menuruti aturan yang berlaku dalam segala perilaku dan tindakanya. Sikapnya pun selalu sopan dan sangat santun. Misalnya menyembah dulu sebelum mengucapkan sesuatu.  Dia selalu memilih kata dan bahasa yang halus dan rendah untuk mengutarakan pendapat pada orang yang dihormati itu. Vibhisana tidak pernah membantah pesan dan amanat yang datang dari orang tuanya, termasuk pesan ibunya untuk memberi peringatan dan nasehat kepada kakanya Ravana.




0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP