Loading...

MEMAHAMI KERANGKA DASAR AGAMA HINDU


Kalau diadakan jajak pendapat kepada seluruh penduduk dunia mengenai cita-cita atau harapan hidup yang didambakan oleh umat manusia, dapat dipastikan 99,99 % akan menjawab bisa hidup bahagia. Bagi umat Hindu cita–cita atau harapan hidup bahagia tidak hanya di dunia, tetapi berharap bisa mendapat kebahagiaan abadi, bersatu dengan Sang Pencipta (Sang Hyang Widhi) atau Moksa. Moksartam Jagathita Ya Caiti Dharma terjemahan bebasnya: berbahagia di dunia berlandaskan dharma menuju kebahagian abadi (moksa) adalah merupakan cita–cita atau harapan umat Hindu di manapun ia berada. Pesan moral tersirat di dalamnya menyatakan bahwa hanya dengan menegakkan dharma, kebahagian dunia menuju kebahagian abadi (moksa) dapat dicapai.
Dharma atau kebajikan terkait erat dengan kesadaran jiwa, hasil terapannya di kehidupan nyata sangat bergantung pada ketaatan dan cinta kasih yang tulus lascarya manusia dalam mewujudkan pengabdiannya kepada Sang Pencipta (Sang Hyang Widhi), kepada sesama dan kepada alam (Tri Hita Karana). Parameter pembeda manusia sebagai makhluk berpikir dibanding dengan makhluk lainnya (hewan dan tumbuh-tumbuhan) adalah pada kemampuan dalam melakukan penyempurnaan diri yang visualisasinya tercermin dalam perilaku hidup yang disebut “peradaban”. Sarasamuscaya 4 menyatakan: “Menjelma menjadi manusia adalah sungguh utama. Sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir & mati berulang) dengan jalan berbuat baik.”
Penyempurnaan merupakan proses evolusi tiada henti sepanjang masa yang merangsang tumbuh dan berkembangnya peradaban dari jaman ke jaman. 
Tumbuh dan berkembangnya peradaban suatu bangsa berproses secara terstruktur bagaikan lapisan telur dalam kerangka dasar: upacara – susila/etika – tatwa/filsafat.
Di mana:
Pertama. Upacara diumpamakan sebagai kulit telur, mengandung makna sebagai perlindungan terhadap kelemahan manusia dari sifat alfa dan avidya. Peringatan berkala yang dilaksanakan secara rutin menggunakan pendekatan sejarah dan simbol-simbol realitas kehidupan yang pelaksanaannya dilakukan dengan cermat, seksama, dan penuh disiplin merupakan pembelajaran bagi manusia untuk mengenal, mengingat, dan memahami esensi kehidupan alam fana yang selalu berubah dari waktu ke waktu (samsara).

Kedua. Susila/etika diumpamakan sebagai putih telur, mengandung makna bahwa suasana aman, nyaman, tenteram dan beradab yang terpancar indah dari nutrisi cinta kasih sayang yang tulus dan lascarya menjadi persemaian subur bagi tumbuh dan berkembangnya peradaban luhur suatu bangsa. 
Ketiga. Tatwa/filsafat diumpamakan sebagai kuning telur mengandung makna bahwa penguasaan dan pemahaman ilmu pengetahuan (Weda) dalam segala aspek kehidupan adalah merupakan sari pati inti proses atau embrio peradaban yang harus ditumbuh-kembangkan secara berkesinambungan untuk kesempurnaan (sasaran inti).
Uraian di atas merupakan gambaran makro alir proses peradaban yang berlangsung secara siklis mengikuti hukum sebab akibat dari bawah ke atas (bottom-up) dengan upacara sebagai landasan (bukan tujuan) dan susila/etika sebagai pilar penyangganya untuk mencapai sasaran inti (tatwa/filsafat).
Sebagai penutup, semoga pemahaman penulis atas kerangka dasar tersebut dapat dipahami sama juga oleh tokoh-tokoh umat, khususnya para Pandita dan Pinandita supaya upacara-upacara yang dilakukan mampu membangun kecerdasan dan memberi pencerahan kepada umat. Cara-cara dogmatis yang miskin pemaknaan tak ubahnya seperti meretaskan telur semouk (telur yang tidak bisa menetas); hanya mendapat sibuk, capek, kesal yang melemahkan Srada dan kualitas kehidupan umat.
Semoga kebenaran datang dari segala penjuru.

Sumber : I Ketut Siarta, Anggota paruman walaka PHDI Prov Banten.

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP