Loading...

BUNUH DIRI MENURUT HINDU


Akhir-akhir ini di media elektronik maupun media cetak terdapat berita tentang bunuh diri, baik dengan menggantung diri, membakar diri, minum racun atau lainnya. Berbagai alasan menjadi penyebab, antara lain faktor ekonomi, sakit yang tak kunjung sembuh, stres dan juga patah hati.
Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 3 dinyatakan, ”Upabhogaih parityaktam natmanamavasadayet, candalatvepi manusyam sarvaatha tata durlabham.” Artinya, ”Jangan sekali-kali bersedih hati sekali pun hidupmu tidak makmur. Dilahirkan menjadi manusia itu hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dilahirkan menjadi manusia meski kelahiran hina sekali pun.” Selanjutnya dalam sloka 4 dinyatakan sebagai berikut ini, ”Iyam hi yonih prathama yanih, prapya jagatipate, atmanam sakyate tratum, karmabhih subhalaksanaih.” Artinya, menjelma sebagai manusia itu sungguh-sungguh utama sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik. Demikianlah keuntungannya dapat menjelma sebagai manusia.
Lahir dan hidup sebagai manusia sangat sukar diperoleh, karena dengan menjadi manusia kita mempunyai kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Dengan adanya daya budhi ini maka setiap orang mampu memberi nasehat kepada dirinya sendiri, ketika pikiran mulai tegang oleh berbagai permasalahan hidup; usahakan untuk mampu memilah dengan tetap berkepala dingin, jangan menganggap kegagalan sebagai akhir hidup melainkan sebagai tantangan untuk meningkatkan hidup. Disaat kita mendapatkan tantangan dalam hidup ini hendaknya kita lebih mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Kitab Bhagawad Gita Bab X.22 dinyatakan, ”Ananyas cintayanto mam, ye janah paryupasate, tesam nityabhiyuktanam, yoga ksemam vahamy aham.”
Artinya, ”Mereka yang hanya memujaKu saja, tanpa memikirkan yang lainnya lagi, yang senantiasa penuh pengabdian, kepada mereka Ku-bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan Ku-lindungi segala apa yang mereka miliki.” Berdasarkan penyataan sloka tersebut, orang yang rajin sembahyang serta bekerja keras tanpa pantang menyerah tidak akan kelaparan dan juga akan dijaga kesehatannya serta dipenuhi apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan ini.  
Oleh karena itu apa pun keadaan kita, baik susah maupun senang, jangan lupa berbhakti kepada Tuhan demi kesejahteraan, kesehatan dan kedamaian lahir bathin. Hal yang tidak boleh dilupakan, dalam keadaan kurang atau pun sedih, yaitu tetap bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Pengasih karena dibalik itu Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah, 
Seseorang yang mengatasi penderitaan dengan mengakhiri hidupnya, tidak akan berubah menjadi bahagia di kehidupan yang akan datang. Sebab bila di dalam kehidupan ini saja seseorang tidak mampu menghadapi dan mengatasi persoalan hidup namun mengakhirinya dengan kematian, tentu di kehidupan yang akan datang persoalan ini akan menjadi lebih sulit lagi.

Hidup ini tidak kekal dan dan penuh derita. Kita sebagai manusia seyogyanya dilahirkan untuk mengakhiri penderitaan dan menemukan kebahagiaan sejati. Menemukan kebahagiaan sejati tidaklah jauh dan juga tidak dekat dengan diri kita, hanya bagaimana cara kita menemukannya. Karena kebahagiaan sejati sesungguhnya berada di dalam hati kita. 
Bila kita dalam keadaan yang sangat terdesak sekali cobalah bermeditasi, merenung, melakukan nama smaranam (mengulang-ulang nama Tuhan), memohon petunjuk kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi agar diberi jalan terang untuk menghadapi kehidupan yang lebih cerah. Berbhakti ataupun meditasi jangan hanya di saat kita susah saja namun hendaknya dilakukan rutin setiap hari, sehingga kita akan menjadi lebih tenang di saat menghadapi tantangan hidup ini.
Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya tanpa diakhiri pun hidup ini akan berakhir, tanpa diundang kematian akan datang dengan sendirinya sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Kematian adalah kepastian dalam hidup ini dan mungkin satu-satunya yang pasti dalam hidup ini. Kematian dengan cara bunuh diri bukanlah jawaban untuk mengakhiri penderitaan dan kematian bukanlah akhir dari segala-galanya.

Oleh: IGA Laksmi Dewi
Penulis adalah Penyuluh Agama Hindu Kanwil Dep.Agama Prov. NTT






1 komentar:

 
TOP