Loading...

HAKEKAT KEHIDUPAN

Ilustrasi

I. Hukum Alam
Siklus kehidupan ini disimpulkan dengan jelas dan sederhana sebagai Trimurti, artinya tiga citra Tuhan yang kita sembah; yang digambarkan sebagai Brahma, Wisnu dan Siwa. Sebagai penguasa atas penciptaan atau kelahiran, pemeliharaan atau kehidupan, dan peleburan atau kematian. Dari tidak ada menjadi ada dan kembali tidak ada. Dan simbol Trimurti ini di Jawa diwujudkan sebagai :

  1. Warna merah (Brahma), warna hijau (Wisnu), warna putih (Siwa).
  2. Nasi tumpeng (benih-benih yang dilahirkan), sayuran (tumbuh dan berkembang), akhirnya sebagai ingkung (mati).
  3. Bunga telon, mawar (Brahma), kenanga (Wisnu), melati (Siwa).
  4. Sirih (Wisnu), pinang (Brahma), kapur (Siwa).

Kita berasal dari alam cahaya, alam air (alam benih), alam api (alam kandungan) alam udara dan tanah, kembali ke alam cahaya. Dan itulah siklus fisik dan psikis kita (perjalanan jasmani dan rohani). Siklus itu di Jawa disebut yuga (pembagian zaman) untuk mikrokosmos bukan makrokosmos. Taman kaliyuga adalah zaman peranan dan permainan indra-indra yang menyebabkan adanya goro-goro. Dan di jaman inilah jaman menunggu waktu (kaliyuga) untuk kembali ke alam cahaya, alam damai (kreta yuga). Menyadari yang demikian itu, sebenarnya itulah hal yang sesungguhnya dari kehidupan ini, sebagai hukum alam (Rta) yang harus kita jalani tanpa bisa mengelak.
Fisik dan psikis kita menghendaki kedamaian sebagai dikiaskan di alam surga sebagai doa kita Sa Santim Apnoti atau Om Santi Santi Santi. Alam Surga itu kiranya adalah alam cahaya itu.
Di alam surga itu digambarkan sebagai alam kedamaian, kebahagiaan, kebanggaan dan ketentraman. Itu disebabkan karena kita tidak lagi memiliki indra-indra sebagai alat untuk merasakan. Jadi kalau kita menutup indra - indra kita atau mengendalikan kita juga bisa sampai ke surga.
Dengan ditemani 11 indra (Rudra) kita dilahirkan kedunia yang diliputi oleh Panca Mahabuta dari luar, menjadikan Panca Mahabuta yang didalam bisa berkembang. Bahwa kita tersusun atas bertrilyun-trilyun makhluk satu sel (75 trilyun) yang berkembang biak. Dan kita berbeda dengan benda mati yang sepertinya tidak bisa hidup, walaupun sama-sama ciptaan Tuhan. Tapi Tuhan bersifat meresap kemana-mana (Wyapi Wyapaka). Jadi pada benda mati pun ada Tuhan disana sebagai penguasa alam. Itulah sebabnya kenapa kita juga punya roh (energi) dan energi itu hidup bisa diajak bicara walaupun tanpa indra. Itulah sebabnya atman sama dengan Brahman, Tat Twam Asi.

II. Swadhyaya
Artinya belajar sendiri atau berpikir sendiri, yang dipelajari dan dipikirkan adalah alam semesta ini, sebagai manifestasi dari Tuhan; semua ilmu yang kita pelajari bersumber pada Tuhan (Veda). Tuhanlah ilmuwan itu, (Narayanad evedam sarvam), Tuhan yang memiliki semua kepandaian.
Dan dari pengamatan, penyelidikan, pembuktian maka banyak cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menghasilkan sarjana-sarjana atau penemu-penemu. Dengan konsentrasi pada ilmu pengetahuan kita akhirnya bisa menemukan Tuhan. Oh Tuhan Engkau Maha Pandai. Dari ilmu biologi kita mengetahui perkembangan sel-sel dari makhluk hidup.
Dari ilmu fisika kita mengetahui fenomena alam yang selalu relatif tapi bisa diprediksi dan diperhitungkan. Yang sederhana mari kita mengamati tumbuh-tumbuhan, bunga, buah, kupu-kupu, telur, ulat, kepompong. Dari tumbuh-tumbuhan disekitar kita, betapa banyaknya model daun yang kita temui dengan khasiat yang berbeda-beda. Dan bunga-bunga itu juga berbeda, betapa indahnya ukiran dan warnanya. Dan buah-buahan itu, betapa segarnya dan enak. Oh, kupu-kupu betapa indah warnamu, paduan warna-warna itu sangat serasi dan bisa ditiru untuk baju-baju. kita. Dan kita mengamati bayi kupu-kupu itu yaitu ulat. Si kecil ini dilindungi oleh bulu-bulu yang gatal sekali agar lestari menjadi kepompong dan kembali menjadi kupu-kupu. Dan bagaimana proses ulat menjadi kepompong akhirnya lahir kupu-kupu yang indah, terbang, mencari makan, melakukan penyerbukan agar tumbuh-tumbuhan berkembang biak, dan menjadi makanan anaknya. Bagaimana menguak rahasia ini? Konon dipunggung ulat tersimpan sel-sel untuk kupu-kupu, yang sangat berbeda dengan ulatnya. Kupu-kupu inipun cerdik, dia meletakkan telornya pada daun-daun yang hanya bisa dimakan oleh ciri khas ulatnya. Karena itu tidak semua ulat ada pada semua daun. Masing-masing daun punya ulatnya sendiri. Tapi kebanyakan daun yang berkhasiat obat tidak dimakan oleh ulat, tapi yang dimakan ulat berarti bisa dimakan oleh manusia, juga yang dimakan belalang, untuk sayuran.
Kiranya itulah jnana-yoga yang bisa kita capai dengan swadhyaya. Dan ujung-ujungnya kembali kita bersujud ke hadapan-Nya Oh, Tuhan Engkau Maha Pandai. Benda-benda mati dari kayu-kayuan menjadi sumber karbon dan menjadi batu bara setelah bertahun-tahun, demikian pula fosil-fosil (dari benda-benda hidup) menjadi minyak tanah setelah bertahun-tahun dan bila semua itu kita bakar, unsur karbonnya menjadi terbebas dan bergabung dengan O2 menjadi COz yang dibutuhkan oleh pohon-pohonan. Jadi bila pohon-pohonan ditebangi maka akan kebanyakan COz dialam semesta yang menyebabkan panas dan pengab. Ditambah CFC atau Freon dari AC dan kulkas yang merusak lapisan ozon.
Akhirnya alam menyesuaikan diri, es dikutub mencair dan kembali berdecak kagum dan bersujud, Oh Tuhan Engkau Maha Pandai. Dan inilah sumber bencana alam itu. Tapi kelak bila pohon-pohonan lebat kembali, ekosistem menjadi pulih maka alam menjadi tenang kembali. Tuhan tidak pernah kejam, Beliau selalu memperbaiki lewat proses dan itulah kuasa-Nya sebagai Trimurti. Dan dunia tidak pernah berakhir.

III. WEDA
Weda harus dipelajari oleh semua orang tanpa pembedaan walaupun ada tahapan-tahapan sesuai daya pikir masing-masing. Weda adalah sumber segala ilmu pengetahuan yang diterima oleh para Maharsi yang sudah suci dan bisa berdialog dengan Tuhan. Dharma adalah pengetahuan kebenaran untuk bisa hidup nyaman dan harmonis di alam semesta ini dan Weda adalah sumber dharma. Dharma melingkupi alam semesta dan Rta juga untuk alam semesta sebagai petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana agar tidak menyalahi Rta (hukum alam). Jadi orang yang sadar dharma dan Rta akan selalu hidup dengan tenang dan damai. Dharma dan Rta ada didalam Weda, Upaweda, serta Wedangga (Upanisad).
Kita harus menyadari bahwa kita memang lain dengan agama Abraham, jangan dicari-cari untuk disamakan. Kita tidak memiliki Nabi, tapi kita memiliki orang-orang super seperti Maharsi yang jumlahnya banyak sekali untuk menerima pengetahuan suci dari Tuhan, karena pengetahuan suci ini tidak cukup hanya satu orang saja untuk menerimanya. Itulah sebabnya kita juga memiliki buku-buku suci yang banyak sekali. Misi kita adalah ajaran kebenaran untuk alam semesta. (Dharma), baru didalam dharma itu ada agama-agama untuk kelompok-kelompok ritual sedang agama Abraham misinya adalah membesarkan agama (kelompok ritual) baru ada dharma didalamnya. Oleh karena itu banyak ilmuwan-ilmuwan yang memilih tidak beragama tapi tetap menjalankan dharma dan mengerti Rta seperti Plato. Karena dharma dan Rta itulah keyakinannya dan ilmuwan-ilmuwan itu adalah kekasih Tuhan dan selalu dekat dengan Tuhan, sehingga diberi pengetahuan suci untuk menguak rahasia alam semesta. Seperti kita juga memiliki para Maharsi sebagai ilmuwan-ilmuwan jauh sebelum muncul agama baru dan pengetahuan baru. Semua ilmu ada didalam Weda, tinggal para ilmuwan yang baru, mengembangkan dan menjelaskan secara rinci dengan perhitungan-perhitungan karena ilmu hitung juga sudah ada di dalam Weda sampai delapan belas digit.

IV. Hakekat kehidupan.
Intinya adalah mengetahui bagaimana cara kita bisa lahir bisa hidup dan bisa mati tanpa sakit dan sedih (moksa). Dan dharma itulah jawabnya dengan dharma kita mencapai jagadhita dan moksartam (mati sesuai hukum alam karena sudah tua, bukan karena kesedihan, kecelakaan dan penyakit). Orang yang sadar Dharma dan Rta adalah orang yang mengerti hakekat kehidupan ini. Dan dia adalah manusia-manusia ideal walaupun ada tujuan agar bisa sebagai manusia-manusia super dengan tahapan-tahapan hidup yang sangat ketat disiplin. Bagi kita cukuplah menjadi manusia-manusia ideal yang didalam Bhagawadgita disebutkan (disimpulkan) sbb, Manusia ideal adalah ia yang :

  1. Berperilaku dan berbudi pekerti harmonis
  2. Bekerja keras untuk kemanusiaan
  3. Berusaha keras untuk emansipasi jiwanya
  4. Berpengetahuan tentang jiwa
  5. Berbakti pada Tuhan Yang Maha Tahu

Diharapkan manusia-manusia Hindu, penyandang dharma ini dan memiliki tujuan: Moksartam jagadhita ya caiti dharma, bisa menjadi manusia-manusia ideal yang bisa berkontribusi untuk keselamatan alam semesta dan seisinya termasuk manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, Carilah dharma didalam agama kita sendiri, karena belum tentu ada pada agama yang lain,
Dengan menyelamatkan manusia kita bisa mencari nafkah
Dengan menyelamatkan binatang kita bisa mencari naftah
Dengan menyelamatkan tumbuh-tumbuhan kita bisa mencari nafkah
Dengan menyelamatkan alam kita bisa mencari nafkah
Dan itulah budaya kita, umat Hindu yang sangat erat dengan alam dan lingkungan. Dan dengan kesadaran itu kita mengerti hakekat kehidupan ini. Dari Trimurti, Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisuda dan Tri Sandhya kita mencapai Tri Dharma yaitu bersusila, berkarya dan berbakti.

Oleh :  Hermien Suparta

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP