Loading...

KIAMAT SUDAH DEKAT ?

Ilustrasi

Kenapa agama Hindu tidak membahas tentang akhir zaman secara mendalam? Kenapa agama Hindu tidak banyak berbicara tentang kiamat seperti dalam agama-agama lain terutama dari rumpun Abrahamik? Apakah kita tidak percaya dengan kiamat?
Banyak dari kita sering mempertanyakan “keberbedaan” agama kita dengan yang lain dalam masalah yang bersifat apokaliptik ini, tapi jawaban tentang masalah ini dalam agama Hindu memanglah tidak gamblang atau eksplisit bila dilihat dari sudut pandang agama lain. Apa sebab? Karena dasar kepercayaan kita memang berbeda.
Menurut agama Hindu, akhir dunia itu ada dan pasti terjadi karena agama Hindu berprinsip bahwa tidak ada yang kekal selain Brahman sebagai keberadaan sejati (tidak pula surga atau neraka). Namun relevansi kiamat dengan peningkatan spiritual seseorang dalam agama Hindu sangatlah kecil kaitannya. Jadi, masalah kiamat tidak menjadi suatu masalah yang terlalu penting. Masalah ini menjadi penting hanya ketika kita  seolah-olah merasa tidak sama dengan orang lain karena tidak memiliki apa yang mereka miliki yaitu pembahasan masalah kiamat.
Agama rumpun Abrahamik memang membahas dan meramalkan secara mendalam tentang masalah akhir dunia dalam kitab-kitab sucinya karena di saat itulah akhir dari pembahasan keagamaan mereka. Pada hari itulah manusia (sebagian percaya, bersama badan kasarnya) dibangkitkan dari kematian dan menerima pengadilan. Baik dan buruk perbuatan mereka dihitung, lalu ditentukanlah kemana-mana mereka akan pergi, ke surga atau neraka. Dan jiwa-jiwa itu kekal di dalamnya.
Membahas tentang bagaimana kejadian pada saat menjelang kiamat, gejala-gejalanya, makhluk aneh apa yang akan muncul (dajjal), saat kiamat, dan setelah kiamat menjadi penting dalam hal ini. Ajaran ini berguna untuk mengingatkan pengikutnya tentang ketidakabadian mereka hidup di dunia ini dan betapa pentingnya menjadi manusia yang taat beragama. Mengingatkan betapa pentingnya bagi mereka untuk mengusahakan surga agar mereka mendapat kenikmatan yang abadi di sisi Tuhan. Seraya membahas itu, diingatkan juga bahwa kiamat itu seperti halnya kematian, tidak ada yang tahu pasti kapan datangnya.
Pada prinsip dasarnya, ajaran agama Hindu tidak persis seperti itu. Jiwa, setelah meninggalkan badan kasar, tidak menunggu di suatu alam (agama lain menyebutnya alam kubur, alam Barzah. Dalam alam ini si baik merasa menunggu kiamat dalam waktu yang singkat, dia diberi kubur yang lapang dan nyaman. Sebaliknya si jahat mendapat kubur yang sempit, tersiksa, dan merasakan waktu menunggu yang lama sekali) untuk diadili setelah kiamat. Menurut agama Hindu segera setelah meninggal, si Jiwa langsung “berhitung” tentang baik-buruk benar-salah perbuatannya selama masih hidup. Yang baik mendapat ganjaran, yang buruk juga mendapat ganjaran. Ada surga, ada neraka. Tapi itu hanya sementara.
Agama Hindu yang mempercayai tentang kontinuitas, berpandangan bahwa setelah itu Jiwa akan lahir lagi ke alam kebendaan dalam wujud yang sesuai dengan asalnya, dari surga atau dari neraka. Biasanya dilukiskan yang lahir dari surga memiliki wajah dan tubuh yang bagus, lahir di keluarga yang bagus, berkecukupan, dan memberi kesempatan bagi Jiwa untuk melanjutkan perjalanannya sampai ia bisa kembali ke kesadaran tentang keadaan sejatinya (moksa). Sebaliknya yang lahir setelah diganjar neraka, Jiwa diberi keadaan tubuh yang lebih buruk, bahkan bisa tubuh tumbuhan atau binatang. Kalaupun menjadi manusia keadaannya tidak sempurna, sehingga ia harus mendaki kembali ke keadaan kesadaran spiritual yang lebih tinggi dengan jalan yang lebih sulit. Jadi, tidak masalah kapan si Jiwa lepas dari badan, perlakuannya tetap begitu. Tidak menjadi masalah apakah si Jiwa lepas pada zaman Yuga apa atau saat si badan hancur sekalian bersamaan dengan hancurnya bumi dan alam semesta ini. Kalaupun memang bumi dan alam semesta ini hancur, bukan berarti Jiwa yang masih belum “bersih” tidak ada tempat untuk lahir lagi. Brahman tidak lantas “ongkang-ongkang”, tapi akan ada penciptaan dari awal lagi seperti disebutkan bahwa penciptaan dan pralaya akan terjadi lagi seperti pernah terjadi sebelumnya, apa yang ada, sudah pernah ada dan apa yang tidak pernah ada, tidak akan pernah ada. Ini bukan penciptaan yang pertama, dan kiamat yang akan terjadi bukan kiamat yang pertama. Semuanya berulang-ulang.
Karena sering berhadapan dengan dogma agama lain, kita juga jadi berpikiran seperti mereka. Tapi jika kita mau menilik sedikit lebih teliti, sebenarnya ajaran agama Hindu tidaklah begitu persis sama dengan dogma tentang kiamat dalam agama lain. Agama Hindu percaya bahwa penciptaan terjadi dalam waktu satu hari Brahman, dan pralaya terjadi dalam waktu satu malam Brahman. Satu hari Brahma umurnya 1 kalpa.
Agama Hindu membagi zaman menjadi empat yang disebut Yuga. Satu Mahayuga terdiri dari empat Yuga yaitu Satya Yuga yang panjangnya 4800 tahun dewa atau 1.728.000 tahun manusia (1 tahun Dewa = 360 tahun manusia). Yang kedua Treta Yuga yang panjangnya 3600 tahun Dewa atau 1.296.000 tahun manusia. Yang ketiga Dvapara Yuga yang panjangnya 2400 tahun Dewa atau 864.000 tahun manusia. Dan Yuga yang terakhir dalam satu Mahayuga disebut Kali Yuga yang panjangnya 1200 tahun Dewa. Saat sekarang adalah Kali Yuga (berawal pada penobatan Pariksit sebagai raja kira-kira 3120 Sebelum Masehi).
Satu kalpa atau satu hari Brahman terdiri dari 14 Manwatara, sedangkan satu Manwatara terdiri dari 71 Mahayuga. Artinya, 1 kalpa sama dengan 3976 Yuga. Artinya lagi, butuh 71 kali siklus Yuga dari satu Brahman untuk berakhir, berganti menjadi malamNya. Butuh 71 kali ketemu dengan Kali Yuga menjelang malam Brahman atau Pralina. Dan itu waktu yang sangat panjang bagi manusia. Waktu panjang yang memungkinkan kita lahir ribuan atau bahkan jutaan kali.
Kalau anda pusing dengan hitung-hitungan di atas, pendeknya begini.  Berakhirnya Kali Yuga  belum tentu sama dengan kiamat. Menurut agama Hindu, pada akhir Kali Yuga, Awatara Wisnu dalam wujud Kalki akan turun kedunia untuk menegakkan kembali Dharma. Kalki turun bukan untuk menghancurleburkan dunia yang sudah berantakan tatanannya, tapi untuk menata kembali. Itu sebabnya, setelah masa Kalki zaman berputar kembali ke awal yaitu zaman Satya Yuga. Begitu terus 71 kali.
Kesimpulannya, teori kiamat sudah dekat bisa benar hanya dan hanya jika ini adalah Kali Yuga yang terakhir, sebab bila ini masih bukan Kali Yuga yang terakhir maka kita akan kembali ke awal tanpa harus melalui kiamat. Kita hanya akan kembali ke zaman dimana Dharma tegak berdiri, kembali ke zaman dimana kehidupan serba suci dan diberkati. Zaman Satya Yuga. Anda, saya, dan semua yang mempercayainya pasti mengalami zaman itu walaupun mungkin dalam wujud, nama, dan keadaan yang lain dari sekarang.
Demikianlah, maka agama Hindu yang percaya dengan perputaran yang abadi seperti abadinya perputaran Cakra di tangan Dewa Wisnu tidak terlalu menitikberatkan pembahasan masalah kiamat. Kita juga sama yakinnya dengan umat agama lain bahwa hal itu akan terjadi, tapi hal itu, istilah kerennya, no big deal lah buat kita. Penciptaan dan penghancuran hanyalah sebuah proses alami mengikuti Rta atau aturan suci semesta yang sudah ditetapkan. Sesuai dengan sifatnya, semua yang diciptakan akan dihancurkan. Tidak ada yang kekal menyamai Sang Maha Penciptanya sendiri, Brahman yang abadi.
Menyadari kiamat masih jauh bukan berarti kita harus santai-santai berbuat seenaknya waktu kita hidup di dunia. Jiwa kita dalam perjalanan, dan dengan menyadari tujuannya, kita haruskah berusaha untuk meningkatkan keadaan jiwa kita semakin mendekat kepada sumbernya. Kita tetap harus berusaha sebaik-baiknya agar kelahiran kita tidak menurun lagi. Boleh saja sih anda menganggap ini adalah Kali Yuga yang terakhir menjelang malam Brahman bila itu dapat membuat anda merasa nyaman dan memacu anda untuk segera mendekat pada kebenaran karena memang tidak ada yang tahu ini Kali Yuga yang keberapa. Tidak ada masalah. Tapi kiamat tetap masih jauh.




0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP