Loading...

KETIKA TRI HITA KARANA HANYA SEBATAS KONSEP


Ibarat mudik yang sudah menjadi tradisi di negeri ini, mungkin bencana alam juga merupakan suatu tradisi karena terjadi hampir setiap tahun. Kita tentu belum melupakan bencana gempa disertai  tsunami yang menelan ratusan ribu korban yang melanda Aceh dan Nias setahun yang lalu. Ibarat luka, belum sembuh yang satu timbul luka baru sehingga badan (bangsa) ini tidak pernah tahu kapan akan sembuh. Aceh belum selesai direhabilitasi muncul bencana alam yang lain yang juga membutuhkan perhatian dari bangsa ini. Yang lebih up to date  adalah badai di pantai selatan Bali (Kuta) yang memporak-porandakan fasilitas pariwisata disana, banjir di Trenggalek-Jawa Timur, dan meningkatknya status gunung merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY menjadi waspada sehingga penduduk disekitar gunung terpaksa harus diungksikan membuat bangsa ini seakan-akan tidak pernah nihil dari bencana. Apakah yang terjadi? Sehingga alam begitu tidak bersahabat dengan manusia,. Mungkinkah ini merupakan balas dendam dari alam/lingkungan yang sudah tidak tahan lagi dirundung derita akibat kesewenang-wenangan manusia?

Dalam setiap masalah, dalam hal ini adalah bencana alam, tentunya orang berusaha untuk mencari kambing hitam, artinya, siapa yang bisa disalahkan. Dalam setiap berita di TV berusaha untuk mengulas siapa atau apa yang menjadi penyebab bencana alam tersebut yang ujung-ujungnya adalah saling tuding antara kita sendiri. Seperti, WALHI menuding adanya perusakan hutan yang tidak terkendali merupakan penyebabnya sedangkan yang lain menyalahkan pemerintah yang kurang bisa mengantisipasi datangnya bencana. Lalu, apakah dengan berdebat untuk mencari yang salah atau yang benar akan bisa menyelesaikan persoalan yang sudah menjadi tradisi di negara ini?. Mengapa kita tidak intropeksi dan retropeksi dengan apa yang telah kita lakukan sehingga alam menjadi tidak ramah lagi pada kita?. Sebagai seorang Hindu, kita tentunya memahami atau minimal pernah mendengar tentang konsep Tri Hita Karana. Konsep yang menyatakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan seseorang harus menjaga hubungan yang harmonis dengan Hyang Widhi sebagai pencipta alam semesta (Parhyangan), dengan Manusia (Pawongan), dan dengan Lingkungan (Palemahan).

Nah, untuk mencapai suatu kebahagiaan manusia harus menciptakan hubungan yang harmonis dengan ketiga-tiganya kalau salah satunya tidak harmonis maka manusia tidak akan mencapai kebahagiaan. Ini disinkronkan dengan tujuan umat Hindu, Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, untuk mencapai kebahagiaan rohani kita harus menjaga hubungan yang harmonis dengan Hyang Widhi dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia kita harus menjaga hubungan yang harmonis dengan manusia dan lingkungan.

Dalam konteks ini (bencana alam), kita tentunya bisa melihat bagaimana alam yang menyediakan hampir semua kebutuhan manusia berubah menjadi ganas dan garang, menghancurkan apa saja yang ada, membunuh tanpa pandang bulu apakah manusia itu berdosa atau tidak, dewasa atau anak-anak. Alam yang dulu tersenyum ramah kepada kita berubah menjadi malapetaka bagi manusia, sungai-sungai yang dulu membawa air kehidupan berubah menjadi air bah yang menghanyutkan apa saja termasuk manusia, hutan-hutan yang dulu hijau menyejukkan berubah menjadi gelombang tanah yang ganas yang menimbun rumah dan manusia. Kita tentunya tidak bisa menyalahkan alam atas bencana yang terjadi karena bencana alam terjadi karena kesalahan dari manusia itu sendiri yang kurang bisa menjaga atau melestarikan lingkungan alamnya, sehingga alam yang dulunya adalah sahabat sekarang menjadi musuh yang mematikan. Kita harus sadar bahwa bencana ini terjadi merupakan suatu warning pada kita karena selama ini kita kurang memperhatikan alam kita. 
Kita harus sadar bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini bukan hak milik kita sehingga kita mengekploitasi alam tanpa memperhitungkan kelestarian alam tersebut. Selain itu pandangan kita terhadaap lingkungan harus berubah. Kita harus mampu memandang bahwa lingkungan disekitar kita juga memiliki kedudukan yang sama dengan manusia, bukan berada di bawah manusia  untuk diekploitasi secara tidak bertanggung jawab tetapi untuk dijaga dan dimanfaatkan seacara arif dan bijaksana.

Dalam Tri Hita Karana terdapat hubungan timbal balik antara Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan yang apabila dilandasi dengan ketulusan hati, kasih sayang, dan saling pengertian akan menyebabkan terciptanya kedamaian dan kebahagiaan. Hal sebaliknya akan terjadi apabila hubungan tersebut tidak dilandasi oleh ketulusan hati, kasih sayang, dan saling pengertian. Lingkungan menjadi tidak teratur sama seperti manusia yang tidak bisa mengatur dirinya untuk memanfaatkan alam. Alam akan memberikan imbas balik yang sama kepada manusia dan akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri, seperti yang terjadi saat ini (bencana alam). Maka dari itu, kita sebagai umat Hindu yang juga merupakan komponen bangsa  harus berusaha untuk mengaplikasikan konsep tersebut. sehingga konsep yang sangat bagus tersebut tidak hanya menjadi jargon-jargon yang diucapkan dalam setiap dharma wacana tapi harus menjadi way of life umat Hindu dan saya kira konsep ini perlu sekali di-nasionalisasi untuk dijadikan pandangan dan landasan hidup oleh masyarakat dari  bangsa yang sedang sakit parah ini. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP