Loading...

PULAU BHINNEKA TUNGGAL IKA


Bali  yang heterogin seperti sekarang ini mengingatkan kita akan semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika” yang tertera di lambang Negara, Pancasila.  Seperti diketahui semboyan ini dipetik dari kekawin Sutasoma karya Empu Tantular, pada jaman Majapahit.   Bunyi kalimat lengkapnya dalam kekawin tersebut adalah “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Drama Magruwa”. Pada jamannya diartikan sebagai “pada dasarnya Budha dan Siwa itu satu; keduanya berbeda, tapi itu satu, tidak ada Dharma yang mendua”.  Ketika itu sepertinya Mpu Tantular menggunakan istilah Dharma untuk  ’agama’, karena pada saat itu Hindu dan Budha merupakan dua agama yang terbesar. Semboyan ini mengisyaratkan pada kita bahwa agama dapat berbeda, namun ada kesatuan dalam perbedaan itu. 

Seperti tampak dalam dokumen-dokumen pendirian negara, Muhamad Yamin salah satu tokoh pendiri negara kita, dalam kontek Negara Kesatuan Republik Indonesia kemudian mengartikan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, secara lebih luas yaitu meliputi semua aliran: semua agama yang ada Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu; budaya, pikiran dan politik, berbeda-beda tapi satu adanya.  

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika semestinya tidak berhenti pada tingkat filsafat saja, jangan pula hanya menjadi wacana di bibir belaka, exercise dari pikiran melulu atau hanya mengagumi keindahan maknanya. Filsafat persatuan bangsa ini seyogyanya, bukan hanya dipahami tetapi sangat perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya untuk menciptakan bukan hanya Bali yang damai dan satu tapi juga Indonesia yang damai dan satu. Apalagi  sampai sekarang kekawin Sutasoma masih sering ditembangkan dalam berbagai kesempatan di Bali dan juga setiap saat kita melihat lambang Garuda Pancasila kita selalu membacanya. 

Semboyan Negara, Bhinneka Tunggal Ika, perlu diujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena hanya dengan prinsip Bhineka Tunggal  Ika,  kerukunan antara umat beragama bisa tercipta secara langeng. Lewat Bhinneka Tunggal Ika, Empu Tantular mengajak kita untuk melakukan Apresiasi antara pemeluk umat beragama. Yaitu melihat dan memperhatikan “kesatuan” yang ada di balik semua perbedaan agama, Darma, Syariat, pandangan, kewajiban, budaya. 

Sebaliknya “toleransi” yang sering didengungkan untuk menciptakan kerukunan dalam masyarakat,  hanya bisa menciptakan kerukunan bersifat sementara dan semu karena ketika kita menggunakan istilah toleransi kita sudah dari awal memusatkan perhatian pada perbedaaan yang ada.  Toleransi hanya bisa mengajak kita untuk menolerir pandangan, pendapat orang lain yang berbeda itu, tanpa mau melihat ada apa di balik perbedaan itu. Oleh karena itu kerukunan yang diciptakan hanya pada tingkat permukaan saja.  Karena sifatnya menolerir, hanya menolerir pandangan orang lain, agama lain,  di balik pernyataan tersebut masih akan mungkin ada gejolak keangkuhan, kemunafikan dan kebencian.  Sehingga setiap saat kerukunan tersebut akan bisa terkoyak mengingat hanya berpijak pada perbedaan yang ada, yang memang selalu rapuh dan sifatnya memisahkan.         

Lalu hal apa yang disebutkan oleh sang Empu yang menyatukan, yang berbeda itu? Pertama seperti tersirat dalam semboyan tersebut, Kebenaran. Kebenaran itu adalah  Tuhan.  Kita  yang menyebutkannya dengan  berbagai sebutan seperti misalnya Sang Hyang Widhi Wasa, Allah, Budha, Yesus, Tao  atau apa saja. Dalam Weda disebutkan dengan istilah “Ekam Sat Vipra Bahudha Vadanti”, Kebenaran itu satu ada-Nya,  Para pujangga memanggil Nya dengan berbagai nama.  Sebutan Nya berbeda-beda, semata-mata karena  masalah istilah, bahasa, kesepakatan bersama suatu kelompok masyrakat misalnya sebutan untuk “air”, orang Bali menyebutnya sebagai toya, tapi orang Jawa memanggilnya sebagai bayu, lain juga dengan orang Sunda, air dikenal sebagai cai dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan water. Pengertian ini perlu kita pahami bukan hanya di pikiran tapi juga perlu didukung oleh hati nurani karena pengertian, pemahaman ini merupakan dasar yang kuat untuk mewujudkan kerukunan.

Kedua, satu dalam tujuan. Banyak jalan satu tujuan. Agama-agama jika dibaratkan sebagai jalan maka semuanya pada dasarnya akan menuju pada yang satu itu, Tuhan. Nah perbedaan jalan ini terjadi karena perbedaan lokasi, keadaan dan waktu, misalnya kita mau ke Bali, tergantung pada keadaan, lokasi dan waktu tadi, jika kita berada di Mataram, kita akan masuk ke Bali dari Timur dan caranya juga bisa bervarisi lewat udara  darat atau laut. Sedangkan bagi mereka yang berada di Jakarta masuknya ke Bali akan dari Barat, dan juga tergantung pada jenis tranportasi yang dipergunakannya.  Jika seseorang transit, mampir, boleh jadi juga dia tidak akan selalu masuk dari Barat. Sehingga juga akan tergantung apa seseorang itu mau mampir/transit.  Oleh karena itu sering dikatakan bahwa jika agama dipandang sebagai jalan maka ada lima milyar lebih agama, sebanyak jumlah manusia, karena jalan setiap orang menuju ke Tuhan sangat spesifik, unik karena sesungguhnya hubungan manusia dan Tuhannya bersifat sangat pribadi dan semuanya akan sampai padaNya.   Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna bersabda, Jalan apapun yang ditempuh oleh manusia, setiap jalan berakhir pada Diri-ku.      

Ketiga,  menyatu dalam kasih.  Tokoh spiritual lintas agama, Anand Krishna dalam buku “Sabda Pencerahan”  mengatakan, “Yang mengenal kasih akan menyadari bahwa dalam lautan kasih itu,  setiap aliran sungai menyatu.  Agama-agama yang berbeda bersatu dalam kasih, menyatu dalam kasih”  Di sini diibaratkan kasih itu adalah lautan, dan agama adalah aliran sungai.  Lautan adalah muara dari semua sungai yang ada, tempat semua sungai menyatu.  Demikian juga dengan Agama dan Kasih, kasih adalah muara, dari semua agama yang ada, tempat menyatunya semua agama.  

Oleh karena itu jika kita menyentuh agama hanya pada kulitnya saja kita akan selalu melihat perbedaan tapi jika kita semakin mendalaminya, semakin dekat denganNya kita akan bisa melihat bahwa semua agama akhirnya akan menyatu ketika sampai di tujuan, lautan Kasih  

Sistem Pendidikan Harus Diperbaiki 
    
Kemudian kenapa dalam dua dasawarsa terakhir kita melihat banyak muncul konflik dan atau kekerasan yang bernuasakan agama, suku, ras dan golongan? Keadaan ini tidak terlepas dari sistim pendidikan kita.  Pendidikan di negara kita ikut berkontribusi, baik pendidikan formal dan bahkan lebih sering pada pendidikan non formal.  Para pendidik, sejumlah guru di sekolah maupun tokoh-tokoh agama ada yang secara sengaja mengarahkan anak didiknya masuk dalam perangkap kotak-kotak agama yang ekseklusif (mengarahkan, menonjolkan perbedaan yang ada antara agamanya dan yang lain), dan fanatisme yang membabi buta.  Bahkan tidak berhenti sampai di sana, ada yang sampai mengarahkan anak didiknya untuk menumbuhkan kebencian pada pemeluk Agama lain. 

Pendidikan seperti ini jelas tidak benar, tidak tepat dan tidak bijaksana. Sadarlah bahwa, pendidikan seperrti inilah yang telah munculnya konflik dan tindakan  kekerasan selama ini.  Terkait dengan reformasi pendidikan, pendapat Anand Krishna tentang ini patut kita perhatikan. Dia menyarankan dalam dunia pendidikan sikap apresiasi dengan agama lain perlu ditumbuhkan oleh para pendidik dan tokoh agama dengan cara memperlihatkan nilai-nilai  luhur dari setiap agama, kesatuan di balik perbedaan yang tampak, seperti yang diisyaratkan dalam bukunya yang berjudul “Reformasi” : “Yang dibutuhkan adalah apresiasi.  Biarkan mereka (anak didik) mempelajari nilai-nilai luhur yang terdapat dalam setiap agama.  Biarkan mereka melihat adanya persamaan nilai-nilai luhur dalam setiap agama”

Mari kita terima keberagaman, pluralnya keadaan yang ada di Bali sekarang dengan rasa syukur bahwasannya sekarang kita diberikan sedikit tantangan agar selalu terjaga dan sadar dan bertanggung jawab akan pikiran, perkataan dan perbuatan kita.  Karena tidak adanya tantangan, keseragaman dan kehomoginan selama ini, sedikit banyak telah ikut membuat keadaan di Bali seperti sekarang. Juga karena kita terlena, dan tidak sadar akan hukum alam, perubahan, semuanya kita anggap sebagai suatu garansi, sesuatu yang tetap.  Mari kita jadikan Bali sebagai pulau contoh dalam pengamalan dan mewujudkan semangat Binneka Tunggal Ika di tanah air. 

Di mana pun kita berada kita harus menyadari bahwa keragaman ini tidak hanya terjadi di Pulau Bali, tapi telah dan akan semakin meningkat intensitasnnya di pulau dan daerah lain di Indonesia juga. Seperti diungkapkan sebelumnya, keadaan ini tidak terlepas dari dampak arus globalisasi, kemajuan teknologi, komunikasi dan tranportasi yang menyebabkan jarak dan lokasi tidak lagi merupakan halangan untuk melakukan suatu aktivitas. Sehingga seruan untuk mewujudkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya bagi Bali semata, tapi juga berlaku bagi semua masyarakat Indonesia di pulau-pulau lainnya, Jawa, Sumatera, Kalimanatan, Sulawesi, Irian jaya, Lombok, Sumbawa, kepulauan Maluku dan pulau-pulau lain yang berjumlah lebih dari 13 000 buah itu sehingga akan bisa menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang damai dan satu dalam keaneka-ragaman agama, suku, budaya, ras dan gologngan. Semoga harapan ini bisa mewujud. 

Oleh : N.W. Suriastini
Penulis adalah penekun spiritual di  Anand Ashram  

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP