Loading...

TRADISI MEGIBUNG SARAT DENGAN MAKNA FILOSOFI AGAMA DAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI YANG LUHUR

Megibung

Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalangnya. Memang, satu daerah dengan daerah lainnya memiliki adat istiadat masing-masing dengan kekhasannya tersendiri, tak terkecuali adat istiadat masing-masing daerah di nusantara ini memiliki kekhasan tersendiri. Inilah salah satu aset kekayaan bangsa yang harus kita syukuri dan lestarikan guna memperkaya khasanah kebudayaan nasional sesuai dengan falsafah bhineka tunggal ika. Berbicara masalah adat istiadat, ada satu tradisi yang masih dianut oleh saudara-saudara kita suku Bali di Bali dan Lombok Barat serta suku sasak di Lombok pula. Yang dimaksud adalah tradisi megibung makan bersama pada satu tempat hidangan terdiri dari 8 orang laki-laki atau 10 orang wanita. Di kabupaten Karangasem pernah dilaksanakan acara megibung masal di Taman Ujung Amlapura pada penghujung tahun 2010, diikuti oleh ribuan krama bali utusan dari setiap kecamatan (8 kecamatan sekabupaten Karangasem). Acara megibung masal ini sempat masuk rekor muri.
Sejak kapan tradisi ini dikenal, apa filosopi megibung dan pendidikan apa yang dapat dipetik dalam tradisi in, silahkan menyimak pada uraian selanjutnya.

Tradisi Megibung
Sejak kapan tradisi megibung dikenal tiada orang yang tahu, yang jelas acara mengibung telah digelar ratusan tahun yang silam secara turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang sampai sekarang. Mengapa makan bersama secara duduk melingkar mengitari satu hidangan lengkap dengan lauk pauk ini dimanakan megibung?
Konon zaman dahulu kala di Bali ada satu upacara keagamaan, memohon keselamatan dunia beserta isinya kehadirat Tuhan yang Maha Esa, menghaturkan sesaji berupa jajan, buah-buahan, daging ayam, sate dll. Setelah upacara agama tersebut selasai, sesaji tersebut seharusnya dibagi untuk dibawa pulang lanjut disantap bersama keluarga. Kebetulan yang hadir dalam upacara tersebut 8 orang laki-laki dan 10 orang wanita, sedangkan sesaji tersebut apabila dibagi kurang adanya. Seorang dari mereka yang termasuk sesepuh atau tertua menyarankan agar sisa saji tersebut jangan dibagi, dikumpulkan dalam dua tempat. Demikain nasinya, daging ayam, jajan, buah-buahan, sate dan yang lainnya ditempatkan pada dua buah nampan besar dialasi dengan gelaran (anyaman daun kelapa muda). Merekapun akhirnya makan bersama dengan mengitari hidangannya, yang laki-laki menjadi satu tempat, demikian pula yang wanita menjadi satu tempat pula. Mereka menyantap hidangan dengan gembira, ternyata acara makan bersama itu bemberikan kepuasan secara lahiriah dan kepuasan bathin tersendiri. Berkenaan dengan makanan sisa sesaji tersebut MEBAGI BUUNG (Bahasa Bali, batal dibagi) maka acara tersebut bernama mebagi buung . kata mebagi buung lama-lama menjadi MEBAGIBUNG kemudian menjadi MAGIBUNG pengucapannya sampai sekarang. Menelusuri kebenaramn cerita ini memang cukup sulit dengan belum dijumpainya peninggalan tertulis. Hal ini perlu diteliti lagi oleh para sarjana dan cerdik pandai.
Dalam perjalanannya mengarungi perputaran zaman berikutnya tradisi megibung ini mengalami penyempurnaan-penyempurnaan seiring dengan makin meningkatnya pengetahuan manusia serta keluhuran budaya dan tradisi bangsa yang terkenal adiluhung, ramah tamah penuh toleransi dan tenggang rasa serta santun. Di zaman serba mekanik dan globalisasi sekarang ini banyak argumen yang dilontarkan tentang tradisi yang satu ini. Ada yang mengatakan kurang efisien memakan waktu lama untuk menyantap, ada yang mengatakan terlalu rumit dan bertele-tele. Namun di satu pihak ada yang mengatakabn sangat praktis, tidak memerlukan banyak alat makan seperti piring, sendok dan garpu, jumlah makanan yang harus disediakan sudah dapat ditemukan sesuai dengan jumlah tamu dll.
Megibung biasanya digelar apabila seseorang melaksanakan satu upacara seperti Dewa Yadnya (korban suci kehadirat Tuhan Yang Maha Esa), Manusa Yadnya (korban suci kepada sesama manusia), Pitra yadnya (korban suci untuk orang yang telah meninggal/leluhur), Buta Yadnya (korban suci bagi butha kalatermasuk satwa) dan Rsi Yadnya (korban suci bagi para penghulu agama). Tetapi sekarang ini megibung digelar bukan hanya sebatas hanya pada uopacara tersebut di atyas namun juga dalam acara selamatan, acara tutup tahun dan menyambut tahun baru, rapat-rapat yang diikuti lebih dari 100 orang, pelantikan Kepala Desa, RAT KUD dll. Di Bali tradisi megibung samapi sekarang masih dianut oleh masyarakat di Kabupaten Karangasem dan Klungkung, sedangkan di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat, megibung bukan saja digelar oleh masyarakat suku Bali saja melainkan juga digelar oleh masyarakat suku Sasak sampai sekarang, bahkan dalam pelaksanaannya demikian memiliki kelebihamn dibandingkan dengan di Bali, dimana kalau di Lombar ada skenarionya serta ada bertindak selaku pengacara atau pengantar acra (pengenter) dari awal pelaksanaan sampai selesai. Hal ini menunjukkan kedisiplinan yang tinggi. Mari kita telusuri bagaimana skenario urut-urutan acara megibung tersebut di bali maupun di Lombok Barat.
Persiapan untuk acara megibung ini untuk di Bali dikerjakan bersama secara gotong royong oleh warga banjar, tetangga atau undangan terdekat. Biasanya dikerjakan sejak sehari sebelum hari H. Dari menangkap babi, ayam atau kambing, membuat bumbu, lanjut mengerjakan samapi selesai pada hari H tersebut. Yang dibuat jenis-jenis lauk pauk tersebut diantaranya: lawar, kekomoh, nyuh-nyuh putih, nyuh-nyuh barak, padamara, wilis (bahannya dari daun belimbing), kacang-kacang, marus, urutan, sate, timbung (rawon), balah dll. Satenya juga banyak macam seperti sate lembat, pusut, asem, kablet dan obob. Setelah seluruhnya selesai, diatur pada satu tempat gelaran (anyaman daun kelapa muda) sedemikian rupa lengkap segala jenis tersebut di atas serba sedikit untuk porsi 8 orang laki-laki atau 10 orang wanita. Jumlah satenya biasanya 15 sampai 20 tangkai. Satu gelaran atau satu porsi ini bernamakan KARANGAN. Ada juga diantaranya bertugas memasak nasi, nasi diatur menjadi gibungan. Gibungan dimaksud adalah nasi seberat satu kilogram diatur diatas gelaran, dialasi dengan namp[an, nare atau baki, ada juga yang memakai dulang (lihat foto) dimana pada pinggirnya  ditaruh garam atau sambal secukupnya. Pada hari H apabila segala persiapan telah selesai, mulai pukul sembilan acara megibung digelar, kadang kala kalau tamu banya acara ini digelar sampai 3 atau 4 periode, dimana satu periode samapai 20 sela (gibung/rombongan). Gibungan diatur penempatannya berbaris, dibedakan tempatr untuk tamu wanita dan laki-laki. Di sebelah masing-masing gibungan tersebut juga disiapkan karangan, air cuci tangan, kendi tempat air minum. Demikianlah apabila personilnya telah lengkap masing-masing  para tamu dipersilahkan untuk cuci tangan lanjut bersantap. Salah seorang dari masing-masing sela tersebut bertugas sebagai tukang pepara (menaikan lauk ke atas gibungan). Demikianlah acara megibung ini berlangsung penuh disiplin. Para pengayah (peladen) yang membawa tambahan air, nasi dll sibuk meladeni para tamu yang sedang bersantap. Acara megibung ini berlangsung sekitar lima belas menit atau lebih. Apabila para tamu telah selesai santap (mereka biasanya bengong saling tunggu) maka tuan rumah atau yang mewakili mempersilahkan untuk cuci tangan lanjut bubaran. Mereka(para tamu) mencari tempat duduk di tempat lain untuk basa basi dengan tuan rumah akhirnya mohon ijin untuk pamitan. Sudah tentu tuan rumah menjawab dengan ucapan terima kasih serta mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangannya.
Di Lombok acara megibung ini lebih unik dan disiplin. Seperti urauian di atas bahwa untuk di Lombok acara ini juga digelar oleh saudara kita suku Sasak disamping suku bali yang tinggal disana. Tokoh adat Sasak Nursilah dan Duharang, demikian pula Zaini tokoh muda asal Desa Blencong Gunung Sari Mataram Lobar secara terpisah menjelaskan bahwa acara megibung masih digelar sampai sekarang apabila ada acara sunatan, perkawinan, Nyiwak (9 hari setelah seseorang meninggal), metang dasa, nyatus (upacara selamatan) dll. Seperti layaknya di Bali megibung disini terdiri dari 8 orang bagi yang laki-laki dan 10 orang bagi yang wanita, mereka duduk melingkari segibungan nasi lengkap dengan lauk disebelahnya, sudah tentu lauknya terdiri dari daging ayam, atau sapi atau kambing atau kerbau. Acara makan bersama ini berlangsung sedemikian rupa sampai selesai sudah tentu ada peladen yang meladeni acara santap ini untuk membawakan tambahan air, nasi dll. Lail lagi apabila acara megibung ini digelar oleh suku Bali di Lombok. Karangan (lauk pauk) tiap gibungan tidak ditaruh di sebelah gibungan melainkan ditempat jauh menyendiri. Selama acara megibung berlangsung dipimpin oleh seorang pengenter (protokol) yang mengomando, lauk apa yang harus disuguhkan secara berurutan. Adapun jenis lauk yang disuguhkan serta urutan penyuguhannya adalah sebagai berikut:
Setelah para tamu lengkap duduk melingkari masing-masing gibunagn tiap sela, maka pengenter mempersilahkan para tamu untuk mencuci tangan lanjut bersantap. Pada masing-masing gibungan telah disiapkan lauk pemula yang disebut sekar gibungan (bunga gibungan), kemudian pengenter mengomandokan kepada para pengayah guna mengantarkan olahan patung (nama salah satu lauk), beberapa menit kemudian menyusun olahan pepenyon. Begitulah terus secara kontinyu disuguhkan jejatah (sate) dmana jejatah ini dihangatkan kembali oleh petugas (nyangglain). Disaat sate dihangatkan, disuguhkan pula bawi repah atau pepindangan (rawon) menyusul jangan olah (sayuran) yang disantap bersama sate yang telah dipanaskan tersebut. Beberapa menit kemudian pengenter menyampaikan ucapan bemberitahuan dengan ucapan tajep yang maksudnya tidak ada lagi lauk yang akan disajikan. Demikianlah apabila para tamu telah usai santap, maka pengenter mempersilahkan untuk mencuci tangan kembali namun masih dengan tertib duduk pada tempat masing-masing. Saat itu disuguhkan jajan yang disebut mesanganan maksudnya cuci mulut, menyusul kemudian sirih dan rokok disodorkan kepada para tamu. Setelah seluruhnya mendapat bagian barulah para tamu dipersilahkan bangun dan bubarran. Satu periode acara megibung ini kadangkala sampai 20 sela. Apabila tamu banyak maka makan bersama ini digelar sampai dua atau tiga periode.
Sukses tidaknya acara megibung ini sangat ditentukan oleh kesigapan tuan rumah dibantu oleh para pengayah (peladen). Juga yang tidak sedikit andilnya adalah para RAN . ran disini yang dimaksud adalah pemimpin atau koordinator di dalam mengerjakan olahan/adonan lauk yang dikerjakan sejak sehari sebelum hari H. Nikmat tidaknya hidangan sangat ditentukan dan bergantung kepada keahlian Ran itu sendiri. I Wayan Danur asal Monjok Mataranm Lombok Barat tokoh adat merangkap sebagai Ran mengatakan bahwa keberhasilan di dalam mengerjakan olahan/adonan lauk ini sangat bergantung dari kerja sama anggota banjar (organisasi adat di satu desa) dan masyarakat di sekitar. Wayan danur sudah kenyang dengan asam garamnya sebagai Ran ini lebih lanjut menjelaskan bahwa ada acara megibung yang dianggap suci yang disebut megibung linggih sumanggen. Dalam acara megibung linggih sumanggen ini semua yang terlibat baik yang menyantap, pengayah dan yang lainnya memakai keris diselipkan di pinggang. Acara suci ini digelar apabila ada upacara suci pula seperti Ngeroras (upacara besar setelah dua belas harinya ngaben) dan Mediksa (upacara apabila seseorang menjadi pendeta) menurut ajaran Hindu.

Satu gibungan dikitari oleh 8 orang dengan duduk bersila di setiap penjuru mata angin mengingatkan kita pada sembilan penjuru mata angin yaitu Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut di tambah di tengah. Dalam ajaran Hindu kesembilan mata angin tersebut dijaga oleh para Dewata yang disebut Dewata Nawa Sanga menciptakan keseimbangan dan keharmonisan bhuana (dunia). Seperti apa yang tersurat dalam lontar Lebur Sanga menguraikan sebagai berikut: ada sembilan linggih para dewata yang disebut dewata nawa sanga yaitu di Utara (uttara) berstana Ida Bhatara Wisnu, di Timur (Purwa) berstana Ida Bhatara Iswara, di Selatan (Dhaksina) berstana Ida Bhatara Brahma, di Barat (Pascima) berstana Ida Bhatara Mahadewa, di Barat laut (Wayabiya) berstana Ida Bhatara Asankara, di Timur Laut (Ersaniya)  berstana Ida Bhatara Shambu, di Tenggara (Gneyan) berstana Ida Bhatara Maheswara, di Barat Daya (Neriti) berstana Ida Bhatara Ludra, sedangkan di Tengah berstana Ida Bhatara Siwa.
Acara megibung merupakan aktualisasi dan pengejawantahan dari filosopi di atas. Dalam hal ini manusia bukan bermaksud amada-mada dewata namun yang terpenting sebagai manusia harus selalu ingat dan meresapi filosopi dewata nawa sanga tersebut guna menciptakan keseimbangan hidup.
Dan yang lebih penting lagi bahwa megibung mengandung pendidikan moral bernilai tinggi seperti pendidikan etika, tata tertib, sopan santun, kesabaran, memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan, salaing menghargai. Betapa tidak, apabila ada diantaranya yang mendahului cuci tangan, mendahului makan atau bangun tanpa mempedulikan yang lain, sudah dianggap tidak mengenal etika dan sopan santun. Demikian pula dari segi kebersamaan, kekeluargaan dan saling menghargai, hal ini akan dapat terpupuk dengan baik. Dalam satu sela (satu rombongan) makan megibung yang terdiri dari 8 orang yang bukan saudara, kadangkala tidak saling mengenal. Hal ini mungkin terjadi karena sama-sama menghadi satu undangan seseorang yang melaksanakan satu upacara atau agama. Perkenalanpun terjadi bahkan dilanjutkan dengan saling memaparkan pengalaman masing-masing secara sepintas sebagai basa-basi. Betapa tinggi nilai filosopi dan pendidikan budi pekerti yang dikandung dalam acara atau tradisi magibung tersebut.

Perubahan
Yang kekal adalah perubahan, demikan ungkapan yang populer sering dilontarkan orang. Demikian pula tentang tradisi megibung, sesuai dengan perubahan jaman sekarang ini, tradisi magibung khususnya di Karangasem tidak lagi terdiri dari 8 orang setiap sela namun terdiri dari 6 orang agar lebih leluasa duduknya. Air minum tidak lagi memakai kendi (caratan) melainkan diganti dengan air mineral dalam kemasan berbentuk gelas.
Lain lagi di Lombok Barat, sekarang tradisi megibung masih tetap dipeliraha dan dilaksanakan, namun ada beberapa perubahan disesuaikan dengan perubahan jaman sekarang ini. Karena acara megibung ini dalama satu periode memakan waktu sampai kurang lebih satu jam, maka lauk pauk (karangan) tidak lagi disuguhkan berurutan sesuai komando, melainkan telah disiapkan selengkapnya di masing-masing sela sepert acara megibung di Bali, namun protokol atau pengenter acara tetap diadakan saat acara megibung.
Demikanlah sekelumit tentang tradisi megibung baik di Bali maupun di Lombok yang mengandung pendidikan moral dan etika yang perlu dilestarikan demi memperkaya khasanah budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP