Loading...

MENJADI SEORANG PEMIMPIN ?


Banyak orang yang mengidamkan -idamkan untuk menjadi seorang pemimpin, mungkin karena kepemimpinan kerap dikaitkan dengan kesempatan untuk pemerintah. Untuk mendapat kehormatan,
Akses/kemudahan, fasilitas dsb. Bahkan terkadang orang bersedia untuk melakukan apa saja demu jabatan sebagai “pemimpin”. Kepemimpinan hanya dilihat dari satu sudut pandang saja, yakni ; sudut pandang “menguntungkan”. Oleh karenanya, ketika kesempatan untuk menjadi pemimpin itu dating, dengan kesalahan persepsi semacam itu, kekuasaan yang diperoleh bisa disalahgunakan sehingga menimbulkan kesengsaraan bagi orang yang dipimpin.

Kualifikasi Seorang Pemimpin

Selama berabad-abad, kualifikasi seorang pemimpin dipertanyakan baik oleh mereka yang menjadi pemimpin maupun mereka yang dipimpin. 

Setelah berakhirnya perang Baratyudha, Yudistira dilanda kesedihan yang luar biasa melihat begitu besar harga yang harus dibayar untuk sebuah kemenangan, banyak orang meninggal, perempuan-perempuan menjadi janda, bangunan-bangunan menjadi hancur, dan sebagainya. Yudistira merasa bahwa lebih baik dia menyepi ke hutan daripada menjadi raja. Sri Krsna menganjurkannya untuk dating kepada Bisma. Percakapan antara Bisma dan Yudistira tentang kepemimpinan ini perlu untuk disimak bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin (Purnaprajna Das, Mahabrarata of Krishna Dvaipayana Vyasa, 2001).

Yudistira : “ Tolong jelaskan kepada saya tentang kewajiban seorang raja”.

Bisma : "Yudistira, Kualifikasi yang pertama dan utama dari seorang raja adalah bahwa dia harus menjadi penyembah Ida Hyang Widhi Wasa. Takdir dan tekanan adalah dua factor besar yang mempengaruhi kehidupan seorang raja. Oleh karena itu, ketika menghadapi hasil yang tidak menyenangkan, seorang raja seharusnya tetap melanjutkan kewajiban-kewajibannya tanpa diselimuti oleh kedukaan.

Mengikuti kebenaran adalah kualifikasi besar selanjutnya dari seorang raja karena tidak ada sesuatu yal yang lain yang dapat menginspirasi warga Negara untuk memiliki kebanggaan yang besar terhadapnya selain hal ini. Sesungguhnya, dengan ketaatan terjadap kebenaran dari apa yang dibicarakan, seorang menjadi sangat fasih dan dapat mencapai kemasyuran yang tak terhitung.

Perlindungan terhadap orang-orang yang dipimpinnya merupakan kewajiban tertinggi dari seorang raja.
Yudistira, anda seharusnya tidak ragu-ragu untuk mengambil tanggung jawab memerintah dunia, karena keuntungan yang diperoleh seorang raja dengan melindungi warganya seratus kali lebih besar daripada yang dapat dicapai dengan kehidupan sebagai pertapa di hutan.

Dari petikan percakapan tersebut, jelaslah bahwa yang mimimpin semestinyta memiliki kualifikasi yang lebih dari orang-orang yang dipimpimnya. Hal in ipenting, mengingat tugas-tuas yang akan dieban seorang pemimpin tidaklah sederhana.

Menjadi Pemimpin Yang Siap

Seorang pemimpin semestinya dipersiapkan / mempersiapkan diri sejak sedini mungkin. Seorang pemipin mesti pendidikan baik.
Chanaknya Pandit dalam karyanya yang fenomenal, Niti Sastra (ajaran tentang etika politik), kitab yang telah dipergunakan sebagai salah satu pedoman utama kepempimpinan selama berabad-abad, menenkankan tentang pentingnya pengajaran pengetahuan bagi seorang raja/pempimpin, sebagai berikut :
“Orang Bijaksana menghabiskan paginya dengan mendiskusikan tentang judi, siannya dengan mendiskusikan tentang perempuan dan malamnya dengan mendiskusikan tentang pencuri.” (Hal yang pertama merujuk pada perjudian yang dilakukan Raja Yudistira, yang kedua tentang perbuatan saleh SIta (Ostri Rama), dan yang ketiga  tentang Krsna pada masa kanak-kanak yang mencuri mentega. Oleh karena itu, Chanakya Pandit menyarankan agar orang bijaksana menghabiskan paginya untuk mempelajari Mahabharata) (Chanakya Pandit, Niti Sastra, dikompilasi oleh : Miles Davis).

“Dia yang memiliki kepintaran adalah kuat; bagaimana seseorang yang tidak pintar bisa menjadi powerful? Seorang gajah di hutan yang sedang mabuk telah kehilangan kesadarannya, dapat ditipu untuk masuk danau oleh seekor kelinci” (Chanakya Pandit, Niti Sastra, dikompilasi oleh : Miles Davis)

Kehidupan pribadi Chanakya Pandit sendiri merupakan suatu contoh yang sangat baik tentang bagaimana proses yang dilalui oleh seorang calon pemimpin. Sejak usia yang masih sangat muda, ia telah belajar ilmu pengetahuan Weda. Ia kemudian memperoleh pendidikan dengan disiplin tinggi dari Universitas Takshashila/Taxila di mana dia kemudian menjadi seorang pengajarnya. Beliau terkenal menjadi pendidik dan penasehat bagi Raja Chandragupta Maurya untuk siapa buku Nisi Sastra pertama-tama ditujukan.

Berbagai sumber memperlihatkan bahwa tradisi Hindu baik di India maupun di Indonesia pada masa lalu memiliki system sendiri bagi mereka yang akan menjadi calon pemimpin. Calon pemimpin dianggap perlu untuk memperoleh pendidikan khusus. Oleh karena itu, dibentuklah tempat pendidikan untuk calon pemimpin yang dikenal dengan istilah “Guru Kula” di India atau “Mandala” pada masa kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia. Sayangnya system ini kemudian memudar di kalangan masyarakat Hindu tetapi justru bisa diadopsi dengan sangat baik dan dipertahankan oleh kebudayaan Muslim Indonesia dengan nama “Pesantren” (pesantren pada awalnya bukan budaya Islam karena di Arab sendiri tidak dikenal pesanten).

Seorang pemimpin harus siap menjadi panutan dari orang-orang yang dipimpinnya sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavadgita :
“Perbuatan apapun yang dilakukan orang besar, akan diikuti oleh orang awam. Standar apapun yang ditetapkan dengan perbuatannya sebagai teladan, diikuti oleh seluruh dunia.” 
Bhagavad-gita 3.21

Konsekuensi Seorang Pemimpin

“Kewajiban pertama seorang raja adalah menaklukkan diri yang baik. Sejarah mengajarkan, tidak terhitung jumlah pemimpin yang jatuh dan kehilangan kekuasaan dengan cara mengenaskan karena tidak dapat mengendalikan diri ketika menjadi pemimpin. Seorang pemimpin diharapkan dapat menjadi sandaran dan contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya. Menjadi seorang pemimpin memiliki konsekuensi yang tidak ringan, baik dihitung secara material maupun spiritual. Dia harus dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya kepada orang-orang yang dipimpinnya dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Srimad Bhagavatam, Skanda 6 Bab 2.3 menyebutkan :
Seorang Raja atau pemimpin seharusnya dapat bertindak sebagai ayah, pemelihara, dan pelindung dari warganya karena rasa cinta dan perhatian. Dia seharusnya memberikan warganya nasehat yang baik dan perintah-perintah sesuai dengan standard yang disebutkan dalam sastra dan berlaku sama terhadap semua orang. Yamaraja melakukan ini sebagai pemimpin utama keadilan, begitu juga mereka yang mengikuti langkah-langkahnya. Tetapi jika para pemimpin tersebut menjadi terpolusi dan melakukan tindakan seperti menghukum orang yang tidak bersalah, dimana warganya akan mencari perlindungan untuk keamanan dan kehidupan mereka”

Kitab Suci Panduan Berpikir, Berkata dan Berprilaku bagi Seorang Pemimpin

“Jika menemui kesulitan-kesulitan dalam politik, maka aku akan dating kepada Bhagawad-gita”
Mahatma Gandhi

Seorang pemimpin semestinya berpedoman pada kitab-kitab suci agar dapat menjadi pemimpin yang baik. Kecerdasan seorang pemimpin tidak hanya diukur dengan pengetahuan keduniawian yang perlu untuk dipahami. Dia akan menjadi seorang pemimpin yang besar apabila secara spiritual juga kuat. Seorang pemimpin dapat dikatakan berhasil memimpin apabila dia tidak hanya bisa memberikan kesejahteraan secara materiil kepada orang yang dipimpinnya, namun juga mampu untuk menjadikan orang-orang yang dimpimpinnya secara rohani menjadi lebih baik. Dapat membuat orang-orang yang dipimpinnya menjalankan swadarma masing-masing dengan sebaik-baiknya. Agar dapat memahami kitab suci dengan baik, dia juga mesti mendekatkan diri pada orang suci / para sadhu.

Bhagavad Gita merupakan kitab suci yang telah menjadi pedoman bagi pemimpin-pemimpin besar dunia sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Tokoh-tokoh besar dunia jaman modern, seperti : Soekarno, Einstein, dan Mahatma Gandhi mengakui betapa berharganya Bhagavadgita bagi kehidupan mereka. Bhagavadgita memberikan penerangan bagi para pemimpin tentang bagaimana menjalankan kepemimpinannya dengan baik. Bhagavadgita sloka 4.1 dan sloka 4.2 menyatakan sebagai berikut :
Bhagavadgita 4.1
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krsna bersabda : Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yoga ini yang tidak dapat dimusnahkan kepada Dewa Matahari, Vivasvan, kemudian Vivasvan mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada Manu, ayah manusia, kemudian manu mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada iksvaku.

Bhagavadgita 4.2 :
Ilmu Pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para raja yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, garis perguruan itu terputus; karena itu, rupanya ilmu pengetahuan yang asli itu sudah hilang.

Dinyatakan dengan jelas bahwa Bhagavadgita khususnya dimaksudkan untuk para raja yang suci, karena mereka harus melaksanakan maksud Bhagavadgita dalam memimpin para warga Negara. (Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Bhagavadgita Menurut Aslinya, 1989)

Refleksi 
Menjadi seorang pemimpin adalah sebuah kemuliaan sekaligus memiliki konsekuensi yang harus dipikul. Walau demikian, tidak perlu takut atau ragu untuk menjadi seorang pemimpin. Rasa khawatir hanya akan memperlemah kepemimpinan yang akan / sedang dijalani. Seorang pemimpin adalah ksatria yang dengan gagah berani maju dalam medan pertempuran. Menjadi seorang pemimpin adalah mulia apabila kita dapat menjalaninya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin, ini juga terkait dengan karma seseorang. Jika kesempatan itu dating, dan anda merasa mampu untuk melakukannya, maka jalanilah!

Oleh : Pande K. Trimayuni 

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP